Review: Ninit Yunita – Test Pack

I just finished reading Ninit Yunita’s second novel, Test Pack. Actually, I watched the movie first before read the book, so I end up imagined the characters as Reza Rahadian and Acha :p

Test Pack – Book Cover (Cetakan Ketiga, 2005)

Sebagian dari kita mungkin ada yang mencintai seseorang karena keadaan sesaat. Karena dia baik, karena dia pintar, even mungkin karena dia kaya. Tidak pernah terpikir apa jadinya, kalau dia mendadak jahat, mendadak tidak sepintar dahulu, atau mendadap miskin.

Will you still love him, then?

That’s why you need commitment.

Don’t love someone because of what/how/who they are.

From now on, star loving someone,

because you want to.

This is a story, tentang pasangan suami istri Rahmat, seorang psikolog, dan Tata, seorang pengacara. They’ve been married for 7 years, tapi belum juga memiliki anak. Segala usaha dilakukan keduanya, terutama Tata, hingga dia terobsesi dengan Test Pack. Ketika mereka sampai pada suatu titik ketakukan akan infertil, akhirnya mereka berkonsultasi ke dokter kandungan. Tata, yang terbukti tidak infertil, dapat bernafas lega, dan semakin terobsesi dengan usaha mendapatkan anak. Ketika usahanya masih belum berhasil, dokter pun menyarankan Rahmat untuk menjalani tes sperma. Ketika terbukti bahwa Rahmat-lah yang infertil, ia shock, dan menyembunyikan hasil ini dari Tata.

Ketika Tata menemukan hasil tes yang disembunyikan tersebut, dunianya hancur. Sudah pasti mereka tidak akan memiliki keturunan. Dari sini lah muncul konflik yang mengguncang pernikahan mereka. Apakah Tata dapat menerima kenyataan tersebut? Atau ia akan meninggalkan Rahmat?

Ninit Yunita mengambil fenomena yang ada di masyarakat, dan mengubah pandangan bahwa tidak hanya wanita yang harus “disalahkan” ketika pasangan suami istri tidak memiliki anak. Bahwa laki-laki pun bisa menjadi infertil, walaupun kondisinya prima. Dan di novel inilah, saya belajar mengenai komitmen, bahwa pernikahan adalah satu untuk selamanya, dan pernikahan bukan hanya untuk memiliki anak.

Komitmen adalah sumber kekuatan bukan sesuatu yang justru membuat orang takut untuk menghadapinya – Test Pack, page 223

Ninit membawakan cerita ini dengan sangat baik, you’ll find messages hidden in this novel, bahkan tanpa kamu sadari, kamu akan berpikir mengenai komitmen yang sedang, atau akan kamu jalani. Membaca buku ini sangat menyenangkan, kamu tidak bisa menutup buku ini tanpa menyelesaikannya terlebih dahulu. Memang, ada beberapa bagian yang berbeda dengan filmnya, but both are awesome! Pesan yang ingin disampaikan tetap ada, walaupun dengan cara yang berbeda. Two thumbs up!

This is a book you need to read before you’re married. Apa yang kamu lakukan jika suami/istrimu infertil? Will you stay? or leave him/her? Meniru gaya Deddy Corbuzier, That’s the question of life!

Advertisements

Review: Tere Liye-Sunset Bersama Rosie

Tonight, 22.30 WIB, selesai membaca novel karangan Tere Liye yang berjudul Sunset Bersama Rosie ini jadi nggak bisa tidur, dan nyesek.

Sunset Bersama Rosie-Cover

Sunset Bersama Rosie, menceritakan kisah Tegar, Rosie, Nathan, Sekar, dan keempat putri Rosie. Tegar dan Rosie, sahabat masa kecil dari Gili Trawangan, salah satu pulau dari gugusan pulau indah di Lombok. Tegar, menyimpan perasaan pada Rosie selama 20 tahun, dan berniat menyatakannya saat matahari terbit di Gunung Rinjani. Tapi, Nathan, yang baru dua bulan berkenalan dengan Rosie, lebih dulu mengutarakan perasaannya saat matahari terbenam. Sejak saat inilah Tegar menghilang dari kehidupan Rosie dan Nathan.

5 tahun berselang, Rosie dan Nathan berhasil melacak posisi Tegar. Setelah 5 tahun, Tegar pun kembali menjadi bagian dari keluarga mereka. Selama 13 tahun, Rosie dan Nathan membangun keluarga bahagia bersama keempat putrinya, Anggrek, Sakura, Jasmine, dan Lili. Kebahagiaan itu lenyap tak bersisa ketika saat ulang tahun pernikahan yang ke-13, bom bali merenggut Nathan dari keluarga ini. Tegar bergegas ke Bali, mencari Rosie dan keluarganya. Begitu mendadak hal itu hingga Ia lupa akan hari pentingnya, pertunangan dengan Sekar keesokan harinya.

Rosie, yang tak dapat menerima hal itu menjadi depresi dan harus dimasukkan ke dalam shelter perawatan. Tegar pun membatalkan janjinya dengan Sekar, pindah ke Gili Trawangan dan menjadi pengganti orangtua bagi keempat putri Rosie. Perjuangan Tegar berjalan dengan lancar, hingga masa lalu menguak muncul dan mengancam kebahagiaan mereka. Bagaimanakah kisah Tegar dan Rosie, kini setelah semuanya terungkap? Siapakah yang dipilih Tegar, Rosie dan putri-putrinya, ataukah Sekar yang setia menunggu dan menciptakan kesempatan untuknya?

Tere Liye membawakan tema “tak bisa move on” dengan gaya yang berbeda dan mengaduk emosi pembaca. Dalam beberapa bagian, saya terpaksa harus berhenti sejenak dan menarik nafas panjang *gara-gara nangis, hihi :p*. Tak jarang, saya merenung, apakah yang akan saya lakukan jika scene itu yang terjadi di kehidupan saya? Alur ceritanya sangat pas, penokohan yang tepat serta latar tempat Pulau Lombok dan Bali yang indah juga mendukung kekuatan novel ini.

Novel ini sarat dengan makna, mulai dari arti kehilangan, kesetiaan, cinta, rasa sakit, hingga maaf. Saya belajar tentang arti kehilangan dari cerita Tegar kepada keempat putri Rosie tentang Putri Nelayan. Saya belajar tentang kesetiaan dari Sekar, yang dalam diam menunggu Tegar menepati janjinya hingga 2 tahun menunggu.

Saya belajar tentang rasa sakit, dari Tegar yang kehilangan kesempatannya di Gunung Rinjani, dari Sekar yang menjadi bayang-bayang Rosie.

Bagi seorang gadis, menyimpan perasaan cinta sebesar itu justru menjadi energi yang hebat buat siapa saja yang beruntung menjadi pasangannya, meskipun itu bukan dengan lelaki yang dicintainya. Bagi seorang pemuda menyimpan perasaan sebesar itu justru mengungkung hidupnya. Selamanya — Oma, page 157

Apakah dunia memang begitu? Kita tidak akan pernah mendapatkan sesuatu jika kita terlalu menginginkannya. Kita tidak akan pernah mengerti hakikat memiliki, jika kita terlalu ingin memilikinya — Tegar, page 403

Saya belajar tentang cinta, dari Tegar kepada Rosie, dari Nathan kepada Rosie, dari Sekar kepada Tegar.

Dan saya belajar tentang maaf, dari Jasmine kepada teroris bom Bali.

Jasmine… Jasmine tidak akan membenci. Demi Paman Tegar yang mengajarkan Jasmine menyulam, merajut. Jasmine… Jasmine tidak akan pernah membenci Om. Karena Jasmine percaya apa yang Paman Tegar bilang. Sungguh percaya. Ayah, kata Paman Tegar, Ayah tersenyum senang di surga kalau Jasmine bisa memaafkan Om. — Jasmine, page 245

Hal utama yang saya dapat dari novel ini adalah, bahwa kesempatan itu kita yang menciptakan, dengan perantara takdir yang telah diatur oleh Allah SWT. Buatlah kesempatan selagi kamu bisa, dan ambillah kesempatan itu. Jangan sampai menyesali apa yang tidak dikerjakan dibanding yang dikerjakan.

Over all, this book is totally recommended!

Review: Andrei Aksana-Sebagai Pengganti Dirimu

Sebenernya baca bukunya Andrei Aksana ini sudah awal Januari yang lalu, tapi berhubung banyak tugas akhir dan ujian, baru sempat ngereview deh *alesan :p *

Sebagai Pengganti Dirimu – Cover

Judul: Sebagai Pengganti Dirimu
Penulis: Andrei Aksana
Tahun Terbit : 2011
Penerbit: PT Gramedia Pustaka utama
Tebal: 320 halaman

“Aku tak mungkin membebaskanmu,” desah Glenn kacau.
“Ibumu yang mengatur pernikahan ini. Dan bukan aku yang dipilih jadi suamimu, kan?”
“Aku nyaris direbut pria lain, Glenn!” pekik Sadira kesal.
“Aku mengandung anakmu! Dan kau tidak sanggup berbuat apa-apa!”

Kekasihnya menolak mengawini, meski telah menghamili. Ibunya menjodohkannya dengan pria lain yang tidak dicintainya. Akhirnya Sadira nekat melarikan diri dari rumah. Tepat di hari pernikahannya, ia kabur bersama sopir limusin pengantinnya. Sopir inilah yang mengubah hidup Sadira. Perhatian dan ketulusan Feran membuat Sadira sanggup menjadi ibu tunggal membesarkan Rava.

Namun di saat itulah Glenn muncul kembali, menghadirkan nostalgia cinta mereka. Pria yang dulu menolak Sadira, yang dulu mengingkari kehadiran buah hatinya, kini meminta Sadira untuk kembali padanya. Sadira terombang-ambing. Siapakah yang harus dipilihnya? Glenn, cinta pertamanya dan juga ayah Rava? Atau Feran, yang selama ini mencintai Rava seperti anak kandungnya sendiri?

“Izinkan aku menyembuhkan luka di hatimu, Sadi,” sergah Feran sedih. “Izinkah aku menggantikan tempat Glenn di hatimu.”

Sebagai Pengganti Dirimu. Betulkah cinta tak pernah tergantikan? Sekalipun telah menorehkan luka dan dendam?

Begitulah sinopsis yang ada di web resmi Andrei Aksana. Ya, buku ini bercerita tentang Sadira, anak bungsu pasangan suami istri kaya raya, Pramudya dan Astari, yang hidup di dalam “sangkar”. Sejak kecil semua keinginanya selalu dipenuhi, tak kurang suatu apapun. Ibunya menaruh harapan yang sangat besar pada Sadira, sehingga memberikan tuntutan agar Sadira menjadi yang terbaik, protektif, dan otoriter. Ayahnya, Pramuya tak berani melawan kehendak Astari karena merasa berhutang budi. 

Dimulai dengan hubungannya dengan Glenn, seorang pemuda yang satu kampus dengannya, Sadira yang sudah menginjak bangku kuliah pun mulai memberontak, ia tak mau lagi berada di dalam sangkar emas ibunya. Pada Glenn, ia menemukan seseorang yang menjadi tempatnya lari dari tuntutan ibunya. Glenn, di lain pihak, pada Sadira ia menemukan tempat pelarian dari sepinya kehidupan keluarganya. Karena terlalu bebas, Sadira pun hamil. Glenn, yang trauma dengan kondisi keluarganya, tidak mau bertanggung jawab.

Astari pun langsung mengambil tindakan, ia memaksa Sadira menikah dengan orang pilihannya. Di hari pernikahannya, Sadira memberontak, ia pun kabur bersama supir limousinnya, Feran. Sejak saat ini lah perjalanan Sadira dan Feran dimulai. Ketika Sadira sudah mulai mencapai kemandirian finansial, Glenn pun datang dan merayu Sadira dan Rava, anaknya untuk kembali bersamanya. Feran, dengan ketulusan hatinya, di lain pihak, mulai mengambil tempat di hati Sadira dan Rava.

Ketika akhirnya Sadira memilih, apakah pilihannya tepat untuknya, Rava, dan kedua lelaki tersebut? Just read the book and you’ll find the answer!

Di buku ini, Andrei Aksana juga memberikan CD lagu mengenai buku tersebut yang dinyanyikan sendiri olehnya, tapi sayangnya karena bukunya pinjam di perpus, jadi nggak bisa mendengarkan isinya 😦 Cerita dalam novel ini typical, alurnya bisa ditebak dari sinopsis yang ada, tapi Andrei Aksana bisa membawa cerita dengan tema yang “biasa” ini menjadi istimewa, dengan pesan yang bermakna, dan gaya cerita yang membius. Walaupun sudah bisa menebak akhir ceritanya, but I found myself happy and carried away by this book. Ceritanya ringan, and you’ll smile at the end of the story. For you who prefer reading light story, romance, and typical, this book is recommended!

Happy reading~ 😀

Review: Habibie dan Ainun

Hari Kamis, 3 Januari 2013 lalu di tengah jadwal kuliah yang menggila dan tugas yang membanjir *tsaah* akhirnya saya berkesempatan ke bioskop nonton Habibie dan Ainun, itupun dadakan gara-gara kuliah sorenya batal. Karena baru beli 15 menit sebelum filmnya dimulai, kami dapat kursi di deretan H. Nggak papa lah ya, daripada nggak dapet kursi :p

Habibie dan Ainun Movie Poster

Habibie dan Ainun adalah sebuah film yang diangkat dari biografi Pak Habibie dengan judul sama, Habibie dan Ainun. Film ini berkisah tentang perjalanan cinta Pak Habibie dan (Almh.) Bu Ainun. Perjalanan ini dimulai dari mereka “dijodohkan” oleh guru mereka di masa SMP, ketika itu Habibie tidak suka dan mengejek Ainun seperti gula jawa 😀 Mereka kemudian berpisah, karena Habibie melanjutkan kuliah di Jerman. Di tengah perkuliahan, Habibie terinfeksi TBC dan harus pulang ke Indonesia. Saat inilah Habibie bertemu dengan Ainun yang saat itu telah menjadi seorang dokter di Bandung. Di sini diperlihatkan proses pendekatan dan perjuangan Habibie melamar Ainun sampai akhirnya mereka menikah dan hidup di Jerman.

Kehidupan Habibie dan Ainun di Jerman sangat sederhana, karena pada masa itu Habibie masih meniti karir. Kehidupan mereka semakin lama semakin membaik hingga saat Presiden Soeharto memanggil Habibie pulang ke Indonesia untuk membangun negeri di bidang transportasi udara. Di film ini juga diperlihatkan perjuangan Habibie di Indonesia mulai pembangunan pesawat perdana N250 Gatotkaca hingga saat-saat Habibie menjadi Presiden Indonesia yang ke-3. Di lain pihak, penyakit kanker ovarium yang menyerang Ainun mulai parah. Di saat inilah, kisah cinta mereka diuji. Ainun sakit dan harus dirawat di Jerman. Kisah dramatis Habibie dan kedua anaknya yang menemani Ainun hingga akhir hayat beliau sungguh menguras emosi penonton. Tak sedikit penonton yang menitikkan air mata melihat film ini *termasuk saya juga sih :p*

Film ini sangat bagus, dengan tata film yang indah dan sesuai dengan tahun kejadian, hingga akting pemainnya. Reza Rahadian memerankan Habibie dengan sangat baik. I can see Mr. Habibie over Reza Rahadian act. It is sooooo awesome 😀 cara berjalan, berbicara, bersikap, sungguh mirip dengan Pak Habibie yang sebenarnya. Begitu bersinarnya Reza di film ini, sehingga menurut saya Bunga Citra Lestari tertutup, aktingnya kurang kuat sebagai pendamping Pak Habibie *ini pandangan orang awam sih yaa :D*

Yang saya rasa mengganggu dari film ini adalah penempatan sponsor di scene tertentu secara frontal dan sangat dipaksakan. Tapi memang sih, saya rasa budget film ini sangat besar, sehingga membutuhkan sponsor yang lumayan. Akan tetapi lebih baik jika penempatan produk sponsor sangat halus dan tidak dipaksakan sehingga penonton tetap nyaman melihatnya. Alur kisahnya berjalan dengan lambat di awal, cepat di bagian tengah ketika Habibie kembali ke Indonesia, dan melambat lagi saat Ibu Ainun dirawat di Jerman.

Terlepas dari sedikit kekurangan film ini, Faozan Rizal dan kru film Habibie dan Ainun telah bekerja dengan sangat baik membawa perjalanan cinta Pak Habibie dan Almh. Bu Ainun ke layar. This movie is sooo worth to watch!! 😀

#galaukuliahlanjut

I’m currently enrolled in Double Degree Program, Electrical Engineering, Brawijaya University. Program Dobel Degree ini adalah program beasiswa yang diadakan oleh Kemendiknas. Sistemnya, 1 tahun kuliah di Indonesia (Universitas yang dituju, – Brawijaya for me) dan tahun kedua di universitas partner yang sudah menjalin kerja sama dengan universitas awal. Di Elektro, universitas partner yang bisa menjadi tujuan riset di tahun kedua adalah University of Miyazaki, Jepang; National Central University, Taiwan; dan National Sun Yat-Sen University, Taiwan.

Beberapa waktu lalu, ketiga universitas ini datang ke Malang, menjelaskan kondisi akademik, lingkungan, dan penawaran beasiswa di masing-masing universitas. Singkatnya promosi universitas masing-masing deh :D. Kami sebagai mahasiswa double degree harus memutuskan apply ke universitas mana untuk riset di tahun kedua. Well, rencananya sih apply ke semua universitas tersebut, jaga-jaga kalau ada sesuatu dan lain hal :p. But then, harus ada prioritas universitas yang dipilih kan? Ini nih yang bikin galau >.<

Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih universitas. For me, I have to choose a university that match with my major, which is Telecommunication Engineering; the laboratory an Professors/associate Professors that expert in research topic I am interested in, which is optical communication, especially in radio over fiber technology; and another important reason is, biaya hidup di negara yang bersangkutan. Poin terakhir ini menjadi penting karena, well, the scholarship doesn’t cover the living cost. It only covers our tuition fee. But hey, biaya hidup itu tergantung haya hidup! And so, these are my considerations about those universities.

1. National Sun Yat-Sen University, Taiwan

Dari presentasinya beberapa waktu yang lalu, terlihat kalau lingkungan universitas ini menyenangkan (it is only few meters from the beach!), Professor yang datang ke Malang ramah dan menyenangkan, bahasa Inggrisnya mudah dipahami (most of Chinese’ and Japanese’ English are difficult to understand), laboratorium dan major yang saya inginkan tersedia, juga peringkat universitas ini di dunia bisa dibilang ada di “papan tengah” *berasa sepak bola :p  .

The problem is, ijazah untuk Sun Yat-Sen masih belum pernah disetarakan oleh Dikti. Untuk melakukan proses pengajuan penyetaraan ijazah itu sedikit rumit sih kalau dibaca di web dikti. Dan untuk univ. yang belum pernah disetarakan, ada 2 kemungkinan, ditolak atau disetarakan ijazahnya. Tapi saya tidak tahu apakah data yang ada di web dikti tersebut up to date atau tidak. See the lists here

2. University of Miyazaki, Japan

Terletak di daerah Kyushu, Jepang, biaya hidup di sini memang tidak sebesar di Tokyo. Kemungkinan bisa dapat beasiswa biaya hidup dari JASO juga ada, dengan catatan harus 5 orang dari UB yang mendaftar ke Miyazaki. But, kalo ada 6 orang yang mendaftar, hanya 5 orang yang mendapatkan beasiswa JASO, sedangkan 1 orang lainnya akan mendapat bantuan dari universitas, but of course it isn’t a full scholarship. Hanya bantuan biaya hidup. Another considerations, jurusan di sana adalah electrical and electronic. Untuk communication seharusnya ada, but I couldn’t find any information in their website. Research area mereka ada yang mengenai optical fiber, which is a plus for me. Peringkat universitas ini tahun 2012 memang lebih rendah daripada Sun Yat-Sen atau NCU. But well, ranking really doesn’t matter.

3. National Central University, Taiwan

Di Taiwan, memang biaya hidupnya lebih kecil dibandingkan Jepang. Jika di Jepang bisa mencapai Rp100.000.000,oo per tahun, di Taiwan “hanya” sekitar Rp 40.0000.000,oo. Di NCU, laboratorium ada, jurusan ada, Professor juga ada, tapiii… Bahasa Inggris nya kurang bisa dipahami *melihat dari Profesor yang datang ke kampus saat itu*, dan Professor yang kemarin datang ke Malang kurang ramah. Lagipula, kesempatan mendapat beasiswa hampir tidak ada, dan bantuan universitas mungkin ada, mungkin tidak. Peringkat universitas ini di dunia juga termasuk “papan tengah”.

Universitas manapun yang pada akhirnya saya pilih, I just hope the best for the result, semoga memang yang terbaik yang dipilihkan Allah untuk saya. Aamiin 🙂

#Rain

Today, January 1st 2013, 22.30 p.m.
It’s blackout, and rain pouring down..
When it rains outside, we are advised to pray because it is the time when Allah gives His blessing to us.
So I pray, for our wishes become true, our successfull future, and hoping He gives us strength and calmness to face what lies in front of us. For us to not forget thank Him whatever happened.