Thought: Antara Mimpi dan Pandangan Masyarakat

Hmm, post yang satu ini sebenarnya memang sedikit *curhat* 😀

I am currently enrolled in NCU Taiwan, second year Master Degree Student, dan berharap bisa lulus tepat waktu. Seiring berjalannya waktu, entah kenapa saya merasa semakin kurang berilmu, dan masih ingin “berpetualang” ke tempat-tempat lain, menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari pengajar-pengajar kelas satu, berinteraksi dengan berbagai macam orang dari seluruh dunia, dan merasakan kehidupan mandiri di negri orang. But then, di usia yang sekarang ini (still 23rd, anyway) dorongan untuk melanjutkan ke jenjang Ph.D membutuhkan pertimbangan yang amat sangat matang.

Why? Seperti yang saya tahu, di lingkungan tempat saya tinggal, far away from here, Indonesia, my beloved country, pandangan masyarakat mengenai wanita seusia saya, yang berpendidikan, dan masih ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi kurang mendapatkan apresiasi. Mereka (kebanyakan) pasti akan berkata, “sekolah terus kapan menikahnya?”. Memang tidak semua orang berpendapat seperti itu, tetapi di lingkungan tempat tinggal saya, di mana masih sedikit wanita yang berkesempatan mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, berpendapat bahwa wanita seumur saya yang akan menikah is better than wanita seusia saya yang masih melanjutkan kuliah, belum berpenghasilan, dan entah kapan akan menikah.

Bukannya saya merendahkan wanita yang memilih menikah di usia muda, teman-teman saya juga sudah ada yang menikah, dan mereka memiliki mimpi masing-masing, either melanjutkan pendidikannya, membaktikan diri pada keluarga sebagai ibu rumah tangga, atau memilih jalan yang lain di dunia kerja. People have their own choices. Some of them choose to get married, being a housewive (I adore people who choose this way, menurut saya ini adalah pilihan yang berat, keep fight, housewives!), some of them choose to get married, yet still continuing their study or pursuing their career. Then is it wrong if I choose to continuing my study first then get married?

Sometimes the biggest obstacle is not ourselves, it is, indeed, the people around us. Family, neighbors, friends, even acquaintances. Ketika wanita ingin meraih mimpi setinggi-tingginya, mereka terkadang akan menurunkan semangat juang kita dengan “what if” and “why don’t you”. Mungkin memang ada beberapa hal yang mereka ingin kita pertimbangkan, dan memang kodrat wanita, as they said, is being a mother and a great wive. Menjadi ibu dan istri yang baik adalah kewajiban wanita, memang, tetapi apakah karena itu kami tidak bisa meraih apa yang kami impikan? Jika lelaki yang ingin meraih mimpinya, pasti akan didukung, dan masyarakat akan memuji dengan setulus hati *maybe* jika kaum lelaki meraih kesuksesan. Well, that is a good thing. Tetapi terkadang saya merasa hal ini kurang adil. Let’s make the comparison. Seorang wanita, umur 27, lulus Ph.D, belum menikah, apa yang akan orang sekitarnya bilang? “makanya, jangan tinggi-tinggi kalau sekolah, nanti susah jodohnya”. Seorang lelaki, umur 27, lulus Ph.D, belum menikah, mungkin orang sekitarnya akan berkomentar baik “coba lihat si x, doktor, lulusan luar negri, dan masih single, calon menantu idaman”. See the difference?

Bahkan di kelas, di saat dosen saya menyemangati mahasiswanya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, they said “kalau ada kesempatan langsung lanjut ke S 3 saja, eh tapi untuk mbaknya, menikah dulu ya mbak”. Salah satu dosen saya menambahkan, “nanti laki-lakinya minder”. Hmm.. but then he said ” tapi tergantung laki-lakinya. seharusnya tidak menjadi masalah”. Right, seharusnya pendidikan tinggi tidak menjadi masalah bagi kaum wanita, selama kami bisa membatasi dan menjaga diri. I once heard people talked, “buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau nantinya cuma jadi ibu rumah tangga”. I beg your pardon, being a housewive menurut saya bukanlah hal yang mudah. It is a hard way. Mendidik anak sedari kecil harus dilakukan oleh orang yang berpendidikan. Wrong way? then the result will totally go wrong. Pilihan apapun yang nantinya kami pilih, bukankah kami wanita, berhak, dan seharusnya, wajib berpendidikan tinggi? Memang, pendidikan yang dimaksud bukan hanya didapat dari bangku perkuliahan. We can get educated any where, every where. Menikah pun memang bukan halangan bagi wanita untuk menggapai mimpi. Tidak ada yang salah dengan menikah muda. No matter how old are you, when you’re ready (mentally, physically, economically, etc) then it’s okay for you to get married. Memang sih, dulu rasanya pingin nikah muda, maybe around this age, 23-25. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, I haven’t ready yet. Bukan karena ingin melanjutkan studi atau bekerja, but I just couldn’t imagine myself in a marriage life. Masih belum bisa mengemban tanggung jawab sebesar itu, mungkin. Because I really hope it will be a once in a lifetime moment.

Kok jadi melebar? Anyway, the point is, what is wrong with well-educated unmarried woman, dear society? Alhamdulillah keluarga terdekat saya selalu mendukung apa yang saya inginkan, selama itu baik dan berada di koridor Islam. My family, encourage me to pursue my dreams, it’s okay to go on Ph.D if you want, they said. Dan di depan orang-orang lain yang menanyakan “kapan nyusul” ketika di kondangan, atau keluarga besar yang menanyakan “kapan menikah” saat lebaran, they will said “belum saatnya, biar sekolah dulu”. As long as my family accept and agree with my plan, then for me it’s ok. 😀

Advertisements

Good Memories Stay..

Jadi ceritanya malem ini saya barusan ditelpon sama teman-teman seangkatan jaman kuliah S1 yang sedang merantau ke Jakarta. Bokir, Wiwik, Pram, Lita, Mita, sama Wahyu. Entah ada angin apa tiba-tiba ditelpon waktu mereka lagi main bareng. It’s already 9 o’clock, dan untungnya saya belum tidur *ketauan kalo suka tidur cepet :p*

Awalnya ada telpon ke nomor simpati saya, tapi karena nggak kenal nomernya, nggak diangkat deh. Di pikiranku, malem gini siapa coba yang telpon-telpon? :p Eh ternyata ada lagi telpon ke nomer XL dan ternyata bokir + temans-temans. Dasar anak gaul jakarta, jam segini masih nongkrong di senayan, hihi :p Really miss them :”) Awalnya tebak suara, ketawa ketiwi ngobrol tanya kabar.. Kangen bangeet :”)

Time flies so fast, and they all go on their own way.. So happy when I heard their recent news.. Dapat kabar baru tentang seorang teman yang mau nikah akhir tahun ini, dan unfortunately saya nggak bisa datang 😦 Althought it’s only for a short time, but it’s lovely to heard their latest news, remembering the old days with them..

Wiwik, mbok dari Bali ini teman satu paket, satu lab, yang masih galau aja gara-gara belum punya pengganti mantannya :p Semoga cepet dapet penggantinya, wiik.. Jangan galau terus 😀

Bokir, asli Pamekasan, teman satu paket, satu lab, seperjuangan dari PKL + skripsi, sampe revisian ke rumah pak dosen tiap Sabtu, yang rumahnya pernah diinvasi teman-teman satu lab waktu ke Madura. Langgeng sama patjar yang sekarang ya bokiir 😀

Pram, koordinator lab dari Kepanjen, temen sepaket, yang “adek”nya banyak tapi masih kecantol mantan. Semangat ya Pram, semoga lolos tes kerjanya + didekatkan jodohnya 😀

Lita, temen sepaket, anak Jember yang kosannya sering saya invasi buat numpang nungguin jadwal kuliah, teman curhat “jaman-jaman galau” itu, yang masih inget sama janjinya kasih saya coklat dari PTPN XII sampe mampir ke rumah buat nganterin coklat waktu dia mudik. Thank you :* Semangat kerjanya, ayo sini kuliah lagii 😀

Mita, finalis Jebing Pamekasan jaman dulu ini temen sepaket, temen sekelas dari semester 1, yang pas jaman maba menginvasi kosannya buat nunggu wajib lapor, dan terkenal dengan sepatu semi sportnya :p Semangat kerjanya mita, semoga cepet lanjut kuliah lagi 😀

Wahyu, bonek Surabaya ini danki terbaik sepanjang masa -kata danton saya- berambut kriwil dan kocak, yang sekarang merantau ke Batam, Jakarta, dan sebentar lagi ke Samarinda. Semangat why 😀

Jadi kangen sama teman-teman yang lain.. Semoga bisa ketemu lagi kapan-kapan ya teman.. Semangat buat apa yang sekarang sedang kalian usahakan, teman-temanku.. Keep the friendship last forever. Sukses selalu buat kita semua dalam meraih mimpi-mimpi kita 😀

Tips: Choosing Your University- [My Version]

The important thing in life is not the triumph but the struggle. –  Pierre de Coubertin

Begitu banyak beasiswa yang ditawarkan, mulai dari universitas di berbagai negara, perusahaan-perusahaan ternama, hingga dari institusi pemerintah. Karena banyak beasiswa yang ditawarkan, pada akhirnya kita bingung untuk memilih yang mana yang paling sesuai.  Nah, berikut adalah tips -tips versi saya untuk memilih universitas yang akan kita apply 😀

1. Choosing The Scholarship

Beasiswa yang ditawarkan memang sangat banyak, dan yang harus diingat adalah memilih beasiswa yang sesuai dengan keinginan kita. I mean, jangan pilih beasiswa tentang politik kalau kita ingin belajar teknik elektro, misalnya *ya iyalah* :p Setelah melakukan eliminasi ini, baca syarat beasiswa tersebut. Jika ada salah satu hal yang tidak mungkin dipenuhi, coret dari daftar pilihan. Misalnya, beasiswa hanya diperuntukkan bagi WNI, jika Anda warga negara asing, jelas akan ditolak 😀

Persyaratan semacam kemampuan bahasa seperti TOEFL, TOEIC, IELTS, atau bahkan TOPIK (Bahasa Korea) dan HSK (Bahasa Mandarin) masih bisa diusahakan. Jangan patah semangat! 😀

2. Choosing The University(s)

Ada beberapa beasiswa yang “terpisah” dengan universitas tujuan. Misalnya KGSP, DAAD, Erasmus Mundus, beasiswa DIKTI dsb. Dalam beasiswa ini kita diperbolehkan memilih sendiri universitas tujuan yang akan kita apply, dengan batasan tertentu. KGSP misalnya, kita diperbolehkan memilih 1(jika langsung mendaftar ke universitas tersebut) atau 3 (jika melalui kedutaan besar) universitas dari total 60 universitas yang tersedia.  Nah, bagaimana kita memilih universitas tujuan? Menurut saya, hal-hal yang perlu diperhatikan untuk memilih universitas tujuan adalah:

  • Adanya bidang ilmu yang kita inginkan

Ada beberapa universitas yang tidak memiliki bidang ilmu yang kita inginkan. Atau beasiswa yang ditawarkan tidak mencakup bidang ilmu yang kita inginkan. Harus jeli dalam membaca requirements scholarship tersebut.

  • Adanya Professor yang ahli di bidang riset yang kita ajukan

Pilihlah universitas yang memiliki Professor yang ahli di bidang riset kita, jika tidak, maka kemungkinannya kita akan kesulitan dengan riset tersebut dan bisa-bisa ganti judul riset 😀

  • Ketersediaan alat-alat laboratorium

Jika kita memilih riset yang memerlukan kerja laboratorium, pilihlah universitas yang memiliki ketersediaan alat yang lengkap, atau jika tidak, universitas yang menjamin bahwa kita bisa mendapatkan alat tersebut, dengan meminjam atau membeli, dan sebagainya.

  • Lingkungan universitas

Lingkungan yang kondusif juga mendukung mood kita untuk menyelesaikan studi 😀 Kemudahan berkomunikasi dengan penduduk sekitar maupun Professor dan staff di universitas juga dipertimbangkan. Akan lebih baik jika kita bisa menguasai bahasa yang digunakan di daerah/negara tersebut 😀

  • Biaya hidup di negara/daerah tersebut

Jika scholarship tidak mencakup living cost, harus dipertimbangkan biaya hidup di daerah tersebut, apalagi jika membawa keluarga. Jangan sampai mengalami permasalahan karena tidak bisa membiayai living cost di sana. Jika memungkinkan, tanyakan pada pihak universitas apakah ada beasiswa yang mengcover biaya hidup atau tunjangan yang bisa kita dapatkan. Bisa juga bekerja part time untuk memenuhi biaya hidup, tapi untuk pelajar asing, biasanya dibatasi jam kerjanya. Well, biaya hidup itu tergantung gaya hidup. Tidak peduli seberapa besar beasiswa yang kamu dapatkan, jika gaya hidupmu jauh di atas yang kamu bisa penuhi, tetap akan terasa kurang.

Intinya, kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang universitas atau beasiswa yang ingin kita apply. Jangan sungkan untuk bertanya kepada contact person yang tercantum jika ada yang kurang dimengerti. Jangan malas mengurus berkas! Selamat berburu beasiswa dan jangan patah semangat. Fighting~ \m/

Nothing we ever imagined is beyond our powers, only beyond our present self-knowledge – Theodore Roszak

 

It’s not about the money..

Sudah setengah tahun saya “bekerja” sebagai “guru” les privat. Pertamanya sih, karena nggak ada kerjaan :p nganggur nunggu pengumuman kuliah yang ternyata baru diumumkan bulan November. Karena bosen nganggur nggak ngapa-ngapain, melamarlah saya ke My Tutor, salah satu lembaga bimbingan belajar di daerah Jl. Taman Slamet, Malang.

Murid pertama saya adalah Sabrina, seorang homeschooler, yang karena kondisi kesehatannya harus memilih homeschooling. Sabrina murid kelas 2 SMP, dan saya bertugas sebagai tentor IPA untuk Sabrina. Murid kedua saya adalah Dafa, kelas 1 SMP di salah satu sekolah negeri di kota Malang. Murid ketiga saya, Rizky, anak sang empunya LBB, seorang murid kelas 4 SD. Selain mereka, ada James, 1 SMP, dan Alicia, 5 SD, serta baru-baru ini ada Dita, 1 SMA yang saya tentori tidak melalui My Tutor, that’s because they are my father’s friend’s children :p Basically, saya mengajar nyaris semua mata pelajaran (SD-SMP), dan IPA untuk SMA.

Setelah menjalani selama 5 bulan di My Tutor, I decided to quit, karena selain rumah murid terlalu jauh dari rumah saya, juga karena jadwal kuliah yang mulai padat. My family also wanted me to quit the job in My Tutor. Jadi, sekarang murid saya tinggal James, Alicia, dan Dita.

It’s not about the money. Yes, I’m doing this not because of the money, karena well, berapa sih gaji seorang tentor? Jika dibandingkan dengan pekerjaan full time lainnya, tidak sampai 10% *ya iyalah :p* I chose this job because I love teaching. Yah, saya pikir itu yang setidaknya bisa saya lakukan di Malang sambil menjalani perkuliahan. I also learned something during this job. How to handle the children, how to teach them well, karena mereka akan cepat bosan. Di sekolah saja sudah banyak yang harus dipelajari. Belum lagi PR, apalagi jika ditambah les. Besides earning some money, I could share my knowledge to another. Bukankah ilmu yang selalu dimanfaatkan itu nantinya akan menjadi tabungan amal kita di akhirat? 😀

“In learning you will teach, and in teaching you will learn.”  ― Phil Collins

“Share your knowledge. It is a way to achieve immortality.”  ― Dalai Lama XIV

Some Websites That Help My Study!

Sebagai mahasiswi, dalam mengerjakan tugas-paper-skripsi pasti butuh data dari jurnal, buku, dan sumber penting —dan berbayar— lainnya. Untungnya, ada orang-orang baik #tsaah yang menyediakan layanan download gratis, atau free course *thank youu! :D*. Beberapa web yang telah membantu saya selama masa perkuliahan adalaaahh:

>> Free Download Books/Journal Websites

Dulu ada gigapedia.org, tapi gara-gara dibanned sama US Copyright itu, sempet nggak ada website download jurnal – buku. Terus setelah surfing browsing dkk, akhirnya dapatlah web bermanfaat ini 😀

1. en.bookfi.org

Segala macam buku tersedia di sini, mulai dari textbook kuliah, novel, sampai buku kumpulan resep dan tutorial kerajinan tangan 😀

en.bookfi.org

en.bookfi.org

2. gen.lib.rus.ec 

Ada beberapa cara mengakses web ini, bisa dari gen.lib.rus.ec, bisa juga dari libgen.org. Situs ini lebih lengkap dari bookfi, karena selain bisa download textbook, recipe book, dkk, dari situs ini kita juga bisa download majalah, scientific article, bahkan komik! Di situs ini pun ada beberapa mirror downloadnya jadi nggak usah bingung kalau misalnya salah satu link broken 😀

gen.lib.rus.ec

gen.lib.rus.ec

Oh iya bagi yang belum tau DOI, DOI stands for digital object identifier, semacam nomor registrasi artikel yang digunakan untuk mengidentifikasi isi dan letaknya di internet. Jadi, DOI itu semacam nomor induk internasionalnya sebuah artikel. Penjelasan lengkapnya see here

DOI

DOI

3. sci-hub.org

Nah kalau yang ini adalah web proxy, kita bisa mendownload jurnal berbayar dari situs ini dengan mengcopy-pastekan doi atau link download jurnal yang kita inginkan. Nantinya, web ini akan men-redirect kita ke halaman jurnal yang diinginkan dengan institutional login melalui universitas yang berlangganan jurnal tersebut.

sci-hub.org

sci-hub.org

>> Free Courses Online

1. Free Course by MIT, USA

Massachusets Institute of Technology, MIT, menyediakan free course online dalam webnya di sini. Di web ini kita bisa belajar dari Professors yang ada di MIT, bisa download materi kuliahnya juga, bahkan soal-soal ujian + jawabannya. Free course ini multidisiplin, hampir semua jurusan yang ada di MIT tersedia course nya, tidak hanya jurusan teknik.

ocw.mit.edu

ocw.mit.edu

2. Udacity

Di Udacity ini lebih seperti e-learning. Jadi kita bisa pilih mau enroll ke kelas apa saja yang kita inginkan, bisa download materi dari pengajarnya yang berupa video, ikut ujian, dan di akhir kelas kita bisa dapat sertifikat! 😀 Sayangnya karena masih baru, jadi pilihan kelasnya terbatas.

udacity.com

udacity.com

>> Open Access Journal

1. DOAJ

DOAJ itu sebenarnya adalah kumpulan jurnal-jurnal open access dalam berbagai bidang, seperti teknik dan ilmu-ilmu murni (science). Just search what journals you are looking for, and this web will redirect you to the journal’s homepage.

doaj.org

doaj.org

2. InTechOpen

InTechOpen juga merupakan salah satu open access journal yang mengkhususkan diri ke science dan engineering.

intechopen.org

intechopen.org

>> Hot Offering from Cambridge Journal Online

Cambridge Journal Online, CJO, menawarkan free download untuk SEMUA jurnal mereka yang terbit tahun 2012 selama 6 minggu. Penawaran ini akan berakhir sekitar awal Maret. Terms and Condition, register, klik here

Last but not least, thank you buat yang udah bikin web-web di atas. Those help me a lot to finish my undergraduate study safely, and hopefully, my master degree too. Semoga post ini bisa bermanfaat bagi semua yang baca 😀

#galaukuliahlanjut

I’m currently enrolled in Double Degree Program, Electrical Engineering, Brawijaya University. Program Dobel Degree ini adalah program beasiswa yang diadakan oleh Kemendiknas. Sistemnya, 1 tahun kuliah di Indonesia (Universitas yang dituju, – Brawijaya for me) dan tahun kedua di universitas partner yang sudah menjalin kerja sama dengan universitas awal. Di Elektro, universitas partner yang bisa menjadi tujuan riset di tahun kedua adalah University of Miyazaki, Jepang; National Central University, Taiwan; dan National Sun Yat-Sen University, Taiwan.

Beberapa waktu lalu, ketiga universitas ini datang ke Malang, menjelaskan kondisi akademik, lingkungan, dan penawaran beasiswa di masing-masing universitas. Singkatnya promosi universitas masing-masing deh :D. Kami sebagai mahasiswa double degree harus memutuskan apply ke universitas mana untuk riset di tahun kedua. Well, rencananya sih apply ke semua universitas tersebut, jaga-jaga kalau ada sesuatu dan lain hal :p. But then, harus ada prioritas universitas yang dipilih kan? Ini nih yang bikin galau >.<

Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih universitas. For me, I have to choose a university that match with my major, which is Telecommunication Engineering; the laboratory an Professors/associate Professors that expert in research topic I am interested in, which is optical communication, especially in radio over fiber technology; and another important reason is, biaya hidup di negara yang bersangkutan. Poin terakhir ini menjadi penting karena, well, the scholarship doesn’t cover the living cost. It only covers our tuition fee. But hey, biaya hidup itu tergantung haya hidup! And so, these are my considerations about those universities.

1. National Sun Yat-Sen University, Taiwan

Dari presentasinya beberapa waktu yang lalu, terlihat kalau lingkungan universitas ini menyenangkan (it is only few meters from the beach!), Professor yang datang ke Malang ramah dan menyenangkan, bahasa Inggrisnya mudah dipahami (most of Chinese’ and Japanese’ English are difficult to understand), laboratorium dan major yang saya inginkan tersedia, juga peringkat universitas ini di dunia bisa dibilang ada di “papan tengah” *berasa sepak bola :p  .

The problem is, ijazah untuk Sun Yat-Sen masih belum pernah disetarakan oleh Dikti. Untuk melakukan proses pengajuan penyetaraan ijazah itu sedikit rumit sih kalau dibaca di web dikti. Dan untuk univ. yang belum pernah disetarakan, ada 2 kemungkinan, ditolak atau disetarakan ijazahnya. Tapi saya tidak tahu apakah data yang ada di web dikti tersebut up to date atau tidak. See the lists here

2. University of Miyazaki, Japan

Terletak di daerah Kyushu, Jepang, biaya hidup di sini memang tidak sebesar di Tokyo. Kemungkinan bisa dapat beasiswa biaya hidup dari JASO juga ada, dengan catatan harus 5 orang dari UB yang mendaftar ke Miyazaki. But, kalo ada 6 orang yang mendaftar, hanya 5 orang yang mendapatkan beasiswa JASO, sedangkan 1 orang lainnya akan mendapat bantuan dari universitas, but of course it isn’t a full scholarship. Hanya bantuan biaya hidup. Another considerations, jurusan di sana adalah electrical and electronic. Untuk communication seharusnya ada, but I couldn’t find any information in their website. Research area mereka ada yang mengenai optical fiber, which is a plus for me. Peringkat universitas ini tahun 2012 memang lebih rendah daripada Sun Yat-Sen atau NCU. But well, ranking really doesn’t matter.

3. National Central University, Taiwan

Di Taiwan, memang biaya hidupnya lebih kecil dibandingkan Jepang. Jika di Jepang bisa mencapai Rp100.000.000,oo per tahun, di Taiwan “hanya” sekitar Rp 40.0000.000,oo. Di NCU, laboratorium ada, jurusan ada, Professor juga ada, tapiii… Bahasa Inggris nya kurang bisa dipahami *melihat dari Profesor yang datang ke kampus saat itu*, dan Professor yang kemarin datang ke Malang kurang ramah. Lagipula, kesempatan mendapat beasiswa hampir tidak ada, dan bantuan universitas mungkin ada, mungkin tidak. Peringkat universitas ini di dunia juga termasuk “papan tengah”.

Universitas manapun yang pada akhirnya saya pilih, I just hope the best for the result, semoga memang yang terbaik yang dipilihkan Allah untuk saya. Aamiin 🙂

Lab Telkom itu…

Lab Telkom itu.. bukan hanya sebuah laboratorium.. bukan hanya sebuah tempat singgah.. bukan hanya tempat bekerja..  bukan hanya akademis.. tapi..

Lab Telkom itu.. sebuah keluarga.. tempat bercerita.. tempat berkeluh kesah.. tempat berbagi riang dan canda.. tempat menimba ilmu.. sebuah tempat penuh makna, penuh kenangan, dan saya bersyukur menjadi bagian dari Lab Telkom..

Saat-saat menjadi bagian dari Lab Telkom itu, mulai dari open recruitment asisten Lab Telkom, sekitar bulan Juni 2010.. Pengumuman OR ditempel, dan saya masih di Jogja, dalam rangka lomba kompetisi roket Indonesia. Batas akhir pengumpulannya 2 hari setelah saya sampai di Malang.  Untungnya saat itu diberitahu salah seorang teman, dan dibantu bikin berkas.. *thank youuu :*

Proses open recruitmentnya melelahkan, mulai dari tes pengetahuan dasar, tes makalah, tes alat, tes  interview asisten, sampai akhirnya tes interview dosen. Dan nunggu pengumumannya itu lamaaaa… sampai akhirnya ketika diumumkan, rasanya campur aduk.. Lega, tidak percaya, bahagia, campur aduk deh..

Selama perjalanan menjadi asisten, banyak hal-hal yang terjadi.. Dapat ilmu baru, baik dalam akademis -praktikum, riset asisten, riset dosen-, maupun nonakademis -bagaimana kita menghadapi berbagai macam tipe orang, bagaimana kita menjalankan peraturan yang berlaku, adaptasi dengan lingkungan baru, bekerja sama dengan orang lain-, pokoknya pengalaman-pengalaman berharga yang mungkin tidak akan pernah saya dapatkan di tempat lain.

Lab Telkom itu, sudah seperti sebuah keluarga dibandingkan dengan sebuah “tempat kerja”, walaupun gajinya jauuuh di bawah UMR :p tetapi tetaap, you’re all my family :). Memang pada awalnya masih merasa sungkan saat pertama kali masuk. Tetapi, lama kelamaan, semakin akrab, nggak ada gap antar angkatan.. we’re just family..

Banyak hal-hal menyenangkan di Lab Telkom.. tertawa bersama asisten lainnya, menertawakan diri sendiri, orang lain, liat video di youtube sampai ngakak-ngakak, pernah nangis gara-gara masalah pribadi, dan teman-teman Lab menghibur, walaupun dengan cara mereka yang aneeehhh -.-” Pernah juga sharing-sharing di ruang belakang lab untuk asisten.. yang diomongin ya macem-macem, kebanyakan sharing yang merepet-merepet ke curhat :p

Regenerasi di Lab Telkom juga ada, dan tiap generasi sama-sama menyenangkan.. Pertama kali masuk, bekerja sama dengan angkatan 2007 yang sudah lebih dulu ada.. kemudian datang angkatan 2009.. dan yang sekarang, angkatan 2010, welcome to the family! (aduh berasa tua deh kalau ada generasi baru gini)

Lab Telkom, @ Bebek Goreng H. Slamet, walaupun nggak lengkap formasinya

Lab Telkom, @ Bebek Goreng H. Slamet, walaupun nggak lengkap formasinya

Untuk anggota keluarga yang baru, semoga betaaah di Lab Telkom, I wish you all the best and tons of luck 🙂

Untuk anggota keluarga yang saat ini ada, semoga bisa mengayomi adik-adiknya, sukses selalu untuk kalian 🙂

Untuk generasi saya, saya akan sangaaaat merindukan kalian ketika saatnya nanti kita berpisah, teman-teman 🙂

dan untuk keluarga besar Lab Telkom, terima kasih banyak atas persahabatan, kerja sama, dan untuk segalanya.. sukses selalu untuk kita semua! 🙂

Dear you,

gara-gara baca surat cintanya orang-orang di 30harimenulissuratcinta.blogspot.com jadi pengen bikin surat cinta juga..

dear you, terima kasih sudah merelakan diri for being my high school crush, walaupun kamu mungkin sama sekali tidak tahu..

dear you, terima kasih sudah menjadi inspirasi, motivasiku, untuk bisa sampai ke level yang sama denganmu, bahkan melebihi apa yang telah kau capai. semua itu supaya kamu bisa melihatku. just for making sure that you know I’m exist 🙂

dear you, terima kasih sudah pernah membuatku bahagia dengan pesan singkatmu, ketika menanyakan ada tugas apa hari ini, ketika kau absen dari sekolah, bahkan ucapan selamat Idul Fitri, yang aku tahu kau kirim ke semua teman-teman kita.

sesungguhnya aku tau, bahwa I’m not even your type, dengan melihat sejarah wanita yang kau sukai. dari mantan kekasih, crush, bahkan orang yang sedang kamu dekati *hei I know them :))

tapi tak apa, pikirku waktu itu, semua bisa berbeda. tapi lama kelamaan, akhirnya aku sadar, rasa ini adalah kekaguman. I adore you, sebagai sosok yang cerdas, pekerja keras, dan optimis. I want to be like you, kamu jadi motivasi aku selama itu, di balik alasan “I want you to know that I’m exist” ada alasan “I want to be a better person like you, or more”

sekarang aku masih mengagumimu, kamu sudah menggapai apa yang kamu inginkan, kalau benar cerita yang kudengar, dan linimasa yang kubaca.. well, congratulation for you, I’m happy to hear that. dan.. semoga berhasil ya dengan pendekatanmu ke seseorang :))

aku? aku masih berusaha, menggapai apa yang aku mau, menggapai mimpiku, dengan caraku sendiri, ditemani orang yang menyayangiku, yang aku tau tulus, selalu ada, sabar menghadapiku, meluluhkan hatiku setelah hampir dua tahun pendekatan #tsaaah *tapi itu cerita lain lagi :p

semoga kita sukses ya. dan nanti, ketika reuni sekolah, aku akan datang membawa cerita tentang mimpi yang telah kuraih, dan mendengarkan cerita mimpi yang telah kau gapai.

regards,

@ichbinnia