Solo Backpacking Cambodia – Part 1: Preparation

It’s been a long time since I updated this blog. Due to the pile of works, finishing my master study, and current job (err actually it is because of my laziness, though :p). Lately I’ve been hooked on traveling, so I’ll post several of my old backpacking stories.

I went to Cambodia in December 2014. My paper accepted in APSIPA 2014 Conference, held in Siem Reap, Cambodia at 9-12 Dec 2014. I asked my Professor to go earlier for a tour and she allowed me to *yeeey*. So I prepare my journey a month before. Since I had plenty of time, I decided to visit its capital city, Phnom Penh before heading to Siem Reap. Here’s my list:

  1. Book flight tickets
  2. Plan itinerary
  3. Book hotel/hostel
  4. Book tuktuk driver

Flight Ticket

My lab paid for the flight tickets and hotel during the conference, so I am not going to tell you how to find a cheap flight tickets. I just find the flight that match with my itinerary, under the budget, of course x))

Itinerary

I was planning to spent a week in Cambodia from 6-14 Dec 2014. Exploring Phnom Penh first then heading to Siem Reap. I use “Trip It”, an android apps to help me save the itinerary. Here is my planned itinerary:

itin

 Hotel/Hostel

There are many cheap hotel/hostel in Cambodia. Just browse it in here, here, here or stumbled upon some traveler’s blog to find recommendation. Before my departure, I book accommodation in Siem Reap. During the conference, I stay at Bou Savy Guesthouse. I chose it because it is only 5 minutes walk from the conference venue, which is held in Sokha Angkor Resort (this 5 star hotel is nice, stay here if you got the money! x) )

Bou Savy is nice, I book for single bed, AC, with private bathroom, but they upgraded me to twin bed, AC, also with private bathroom *happy*. The breakfast is included in the package, and the menu is varied, from a simple baguette (with jam/egg)  to the traditional rice noodle dish. Since I wanted to taste its traditional food, I ordered the vegetable rice noodle dish, but the waiter said I couldn’t eat the dish since I am Moslem. You shouldn’t be afraid to go to Cambodia if you’re Moslem, there are Moslem community in Cambodia, so they’re familiar with Moslem rules, this country is Moslem friendly 😀

After the conference was over, I decided to move to the cheaper hotel near the night market, Mandalay Inn Hotel. The hotel was okay, $7 for single room AC with private bathroom, no breakfast included.

Tuktuk Driver

This is important. Since I traveled alone and in Cambodia the public transportation is confusing me, I booked tuktuk to drove me around the city. I looked someone who could speak English or Indonesian. In Phnom Penh, I book Nasim, a Moslem driver, ever worked in Malaysia, so he could speak English and Melayu (contact me if you need his number), while in Siem Reap, I book another Moslem driver, Salim. He also could speak English and Melayu.

 

So the preparation was done, and I was ready to go on board!

… to be continued to Part 2

 

 

Advertisements

Coffee Taste Malang

Hari ini kulineran sama adek ke coffee taste malang. Emang dari kemaren-kemaren waktu ada yang bahas coffee taste di twitter udah pengen ke sini, akhirnya kesampaian deh sebelum liburan berakhir kulineran ke sini 😀 Tempatnya di Jl. Sarangan 21 A, di ruko-ruko yang sebelah burger buto. Di coffee taste ini ada 2 lantai, lantai pertama disekat antara smoking dan non-smoking area, kalau di lantai 2 buat  non-smoking area aja. Suasananya menyenangkan, adem, ada musicnya (walaupun bukan dari live-music), ada wi-fi + colokan nya juga (tapi nggak cepet-cepet amat sih, paling cepet 35 KBps untuk di lantai 2 *masih lebih cepet modem :p*), dan yang oke, pelayanannya cepeet 😀

Makanannya bernuansa western, dari pasta — lasagna, fettucini, spaghetti, macaroni dkk—, pizza, burger, wafel, pancake, zuppa soup juga ada. Kalau mau cemilan di sini ada french fries, jamur krispy, dan cemilan standar lainnya :p Minumannya ada yang coffee & non-coffee. Enak-enak kok makanannya 😀

Hari ini aku sama adek pesen lasagna in red sauce, fettucini aglio olie beef, green tea coffee ice blend, sama tiramisu coffee ice blend.

Fettucini Aglio Olie Beef

Fettucini Aglio Olie Beef

Fettucini aglio olie beefnya pedes, banyak “ranjau” —potongan cabe rawit :p— dan adek menghabiskannya dalam sekejap :p

Lasagna with Red Sauce

Lasagna with Red Sauce

Lasagnanya porsinya lebih sedikit dari di illy, tapi enak kok, daging + kejunya banyak :p Pertamanya kukira red sauce itu pedes, ternyata eh ternyata, manis rasanya -.-

Tiramisu Coffee Ice Blend

Tiramisu Coffee Ice Blend

Minuman pesenan si adek, tiramisu coffee ice blendnya berasa kayak tango tiramisu *halah :p*, kalau pesenanku, lebih kerasa green teanya daripada coffeenya. Awalnya agak aneh, lama-lama jadi enak :p

Green Tea Coffee Ice Blend

Green Tea Coffee Ice Blend

Dan karena masih laper, nambahlah kami wafel, haha :p Wafelnya enaaaak, yang original, dengan sirup maple, ada 3 tumpuk, rasa wafel yang gurih + maple syrup yang manis adalah perpaduan yang pas! 😀

Original Wafel

Original Wafel

Oh iya, harganya mulai dari Rp 4.000,- (mineral water :p) hingga Rp 32.000,- (pizza). Rata-rata harganya sekitar Rp 15.000 an lah.  Masih cukup buat dompet mahasiswa seperti saya *tapi sesekali aja, dan di awal bulan* :p

ThaiNam-Thailand and Vietnam Cuisine, Malang

Kemarin (03/02/2013) diajak makan makan sama Ibu di ThaiNam, Resto & Cafe dengan specialtynya masakan Thailand & Vietnam. Resto ini terletak di Jl. Kawi No. 35 Malang, right in front of MOG. Dari luar memang tidak kelihatan “meyakinkan” soalnya pintu masuknya sedikit nyempil. Pertama kali masuk, tempat makannya semacam di lorong gitu, dengan suasana remang-remang khas bistro Prancis *kayak pernah-pernah aja :p* tapi ternyata tempatnya lumayan luas, masih ada ruangan di sisi kanan “lorong”. Tempatnya menyenangkan, adem ber AC, suasana cozy, dan music yang diputar oke, dihiasi dengan pernak pernik Thailand – Vietnam, dari foto-foto di dinding, sepeda khas petani Vietnam beserta capingnya, sampai ornamen gajah dan arca-arca khas Thailand.

Suasana ThaiNam

Suasana ThaiNam

Range harganya mulai Rp 10.000,- hingga Rp 50.000,-. Harganya agak mahal sih buat saya yang masih mahasiswa, tapi berhubung keluarnya diajak Ibu, jadi dibayariin dong :D. Di sini makanan dikelompokkan menjadi appetizer, veggies, fried rice, specialties, dan dessert & drinks. Hari ini kami pesan Tom Yam, Ga Luc Lac, Pla Rad Prik, Khao, dan Pad Woo Sen. Namanya memang dalam bahasa Thailand – Vietnam, tapi ada penjelasannya sih di menunya, jadi nggak perlu khawatir 😀

Tom Yam

Tom Yam

Tom Yam itu semacam Sup — dengan pilihan isi udang / seafood — yang rasanya asam spicy. Tom Yam di ThaiNam ini rasa asamnya terasa sekali karena jeruk nipis —mungkin— yang ditambahkan dengan serai dan daun jeruk. Enaak :9

Pad Woo Sen

Pad Woo Sen

Pad Woo Sen adalah Soun Thailand goreng dengan telur, kucai, dan otak-otak. Ada jamur kuping dan sayur-sayuran juga sih sebenernya.  Rasanya kalo saya kurang suka, masih kerasa amis dari telurnya. Tapi adek + Ibu bilang biasa aja —which is mean nggak amis— jadi mungkin cuma perasaan saya aja :p

Ga Luc Lac

Ga Luc Lac

Ga Luc Lac itu sebenarnya adalah daging —ayam/sapi, you can choose one— lada hitam yang disajikan dengan fresh salad. Saladnya terdiri dari daun yang saya nggak tau namanya tapi rasanya sedikit pahit, bawang bombay, dan tomat. Rasa dagingnya enaaak, empuk, tapi saladnya pahit 😐

Pla Rad Prik

Pla Rad Prik

Masakan yang satu ini adalah Pla Rad Prik, yaitu gurami goreng tepung dengan saus khas ThaiNam. Saus ThaiNam ini menurut saya seperti sambal bangkok tapi lebih manis. Guraminya memang digoreng crispy, tapi dagingnya masih lembut banget :9

Oh iya tadi saya menyebutkan Khao, itu adalah nasi putih. Karena semua udah tau jadi nggak perlu screenshotnya lah ya :p Untuk minumannya tadi pesan Iced Lemongrass Soda, Iced Thai Green Tea, dan Iced Lychee Tea with Lemongrass.

Iced Lemongrass Soda

Iced Lemongrass Soda

Minuman yang satu ini terdiri dari soda tanpa rasa, madu, dan lemongrass (sereh). Dan rasanya dominan lemongrassnya. Agak aneh karena nggak terbiasa, tapi enak kok :9

Iced Thai Green Tea

Iced Thai Green Tea

Minuman paling enak hari ini adalah Iced Thai Green Tea ini, rasanya nggak seperti ocha yang berbau amis semacam nori, tapi wangi dan ada campuran susunya. Thai Green Tea instan bisa beli di mana ya? enak banget sih, jadi mau lagi :9 Minuman yang lain, Iced Lychee Tea with lemongrass terdiri dari iced tea, lemongrass, dan leci kalengan. Rasanya semacam teh botolan fut*mi lychee, tapi lebih enak *ya iyalah* dan minuman ini nggak sempat kefoto :p

Pelayanan di ThaiNam menyenangkan, friendly, dan serving foodnya juga cepat. Waktu menunggu itu diberikan cemilan kerupuk —nggak tau namanya— sama sambal bangkok. Selain itu di sini juga diberikan Loyalty Card, yaitu kartu yang digunakan untuk mengumpulkan stiker yang bisa ditukar dengan menu tertentu 😀

Overall, di sini enak sih tempatnya, cocok buat candle light dinner bersama pasangan, atau makan bersama keluarga :3 ThaiNam ini buka setiap hari mulai 10.00-22.00, bisa delivery service juga, tapi syarat dan ketentuan berlaku 😀 This Resto is recommended!

Review : Love, Curse & Hocus Pocus – Karla M. Nashar

And what would you do, if I told you I have no intention to kiss you?”

“Kurasa… aku akan membuatmu mengubah keputusanmu itu.”

Ketika Troy Mardian dan Gadis Parasayu yang saling membenci harus terbangun dalam keadaan bugil dengan memori kabur akan pernikahan mereka, reaksi pertama mereka adalah berteriak histeris. Mereka curiga jika semua keanehan itu berkaitan dengan wanita gipsi tua yang mereka tertawai pada acara ulang tahun kantor mereka.

Untunglah mimpi dan realita yang tumpang tindih mempermainkan akal sehat mereka itu segera berakhir, dan membawa mereka kembali ke dunia nyata. Kali ini Troy dan Gadis yakin semua keanehan yang mereka alami itu telah berakhir. Setidaknya demikian, hingga tugas kantor membawa mereka ke negara para Duke dan Duchess, Inggris.

Dalam penerbangan yang melewati turbulensi ekstrem dan nyaris merenggut nyawa, keduanya dipaksa berpikir ulang tentang perasaan masing-masing.

Meskipun mereka saling membenci sejak pandangan pertama, mungkinkah berbagai peristiwa aneh tersebut justru mengubah rasa tidak suka mereka menjadi cinta?

Dan ketika Troy dan Gadis mengira hidup mereka sudah mencapai puncak kebahagiaan tertinggi, nun jauh di sana, sayup-sayup suara gemerencing lonceng perak kecil milik si gipsi misterius kembali membelah pekatnya malam…

Lalu apa kira-kira yang akan terjadi pada Troy dan Gadis kali ini?

Cring… cring… cring… Beware!

Love, Curse, & Hocus Pocus – Book Cover

Buku ini adalah sekuel dari Love, Hate, & Hocus Pocus, yang epilognya masih menggantung *menurut saya*. And so, when this book is published, I’m so happy ~\^o^/~

Kisah Troy dan Gadis kali ini bersetting di Inggris, di mana mereka mencari wanita gipsi yang mengisi acara ulang tahun BPI untuk mencari jawaban atas semua yang telah terjadi. Di perjalanan, karena turbulensi pesawat yang hebat, Troy dan Gadis mengalami “mimpi” tentang masa depan mereka, di mana mereka sudah berkeluarga dan memiliki anak.

Scene mimpi itu berkelebat di benak Gadis dan Troy, bahkan saat mereka dalam kondisi sadar. Kehadiran Putra yang berniat melamar Gadis, dan Lucinda, yang masih mengharapkan Troy, membuat mereka ingin menemukan apa yang sebenarnya terjadi, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mencari jawaban ke wanita gypsi tersebut. Perjalanan ini membuat mereka sadar dan jujur terhadap perasaan masing-masing.

Here are some quotes I love from this book 😀

Melabeli itu berarti memberikan batasan pada sesuatu. Banyak hal dalam hidup ini yang tidak bisa dilabeli dengan kata-kata yang punya keterbatasan. Padahal untuk bisa memahami hal-hal yang tidak bisa dilabeli, kita hanya perlu jujur merasakannya dengan hati. Sesederhana itu. — Lyubitshka, page 336

Love is simple, but most people tend to overanalyze it  — Lyubitshka, page 338

Karena kamu adalah realitaku, Gadis. Kamu memberikan definisi kehidupan yang sebenarnya bagiku  — Troy, page 396

Overall, novel ini sangat menghibur, walaupun tebal, tapi membaca novel ini tidak membosankan, ada hal-hal yang berbeda yang saya baca di setiap perjalanan Troy dan Gadis menemukan Lyubitshka. Jika dibandingkan dengan prekuelnya, alur buku ini memang lebih “lambat”, but both are fine, karena di novel ini lebih ke dalam pencarian jawaban keduanya, sementara di buku sebelumnya harus membongkar kejanggalan di dunia farmasi. In the end, this book is recommended!

Review: Ninit Yunita – Test Pack

I just finished reading Ninit Yunita’s second novel, Test Pack. Actually, I watched the movie first before read the book, so I end up imagined the characters as Reza Rahadian and Acha :p

Test Pack – Book Cover (Cetakan Ketiga, 2005)

Sebagian dari kita mungkin ada yang mencintai seseorang karena keadaan sesaat. Karena dia baik, karena dia pintar, even mungkin karena dia kaya. Tidak pernah terpikir apa jadinya, kalau dia mendadak jahat, mendadak tidak sepintar dahulu, atau mendadap miskin.

Will you still love him, then?

That’s why you need commitment.

Don’t love someone because of what/how/who they are.

From now on, star loving someone,

because you want to.

This is a story, tentang pasangan suami istri Rahmat, seorang psikolog, dan Tata, seorang pengacara. They’ve been married for 7 years, tapi belum juga memiliki anak. Segala usaha dilakukan keduanya, terutama Tata, hingga dia terobsesi dengan Test Pack. Ketika mereka sampai pada suatu titik ketakukan akan infertil, akhirnya mereka berkonsultasi ke dokter kandungan. Tata, yang terbukti tidak infertil, dapat bernafas lega, dan semakin terobsesi dengan usaha mendapatkan anak. Ketika usahanya masih belum berhasil, dokter pun menyarankan Rahmat untuk menjalani tes sperma. Ketika terbukti bahwa Rahmat-lah yang infertil, ia shock, dan menyembunyikan hasil ini dari Tata.

Ketika Tata menemukan hasil tes yang disembunyikan tersebut, dunianya hancur. Sudah pasti mereka tidak akan memiliki keturunan. Dari sini lah muncul konflik yang mengguncang pernikahan mereka. Apakah Tata dapat menerima kenyataan tersebut? Atau ia akan meninggalkan Rahmat?

Ninit Yunita mengambil fenomena yang ada di masyarakat, dan mengubah pandangan bahwa tidak hanya wanita yang harus “disalahkan” ketika pasangan suami istri tidak memiliki anak. Bahwa laki-laki pun bisa menjadi infertil, walaupun kondisinya prima. Dan di novel inilah, saya belajar mengenai komitmen, bahwa pernikahan adalah satu untuk selamanya, dan pernikahan bukan hanya untuk memiliki anak.

Komitmen adalah sumber kekuatan bukan sesuatu yang justru membuat orang takut untuk menghadapinya – Test Pack, page 223

Ninit membawakan cerita ini dengan sangat baik, you’ll find messages hidden in this novel, bahkan tanpa kamu sadari, kamu akan berpikir mengenai komitmen yang sedang, atau akan kamu jalani. Membaca buku ini sangat menyenangkan, kamu tidak bisa menutup buku ini tanpa menyelesaikannya terlebih dahulu. Memang, ada beberapa bagian yang berbeda dengan filmnya, but both are awesome! Pesan yang ingin disampaikan tetap ada, walaupun dengan cara yang berbeda. Two thumbs up!

This is a book you need to read before you’re married. Apa yang kamu lakukan jika suami/istrimu infertil? Will you stay? or leave him/her? Meniru gaya Deddy Corbuzier, That’s the question of life!

Review: Tere Liye-Sunset Bersama Rosie

Tonight, 22.30 WIB, selesai membaca novel karangan Tere Liye yang berjudul Sunset Bersama Rosie ini jadi nggak bisa tidur, dan nyesek.

Sunset Bersama Rosie-Cover

Sunset Bersama Rosie, menceritakan kisah Tegar, Rosie, Nathan, Sekar, dan keempat putri Rosie. Tegar dan Rosie, sahabat masa kecil dari Gili Trawangan, salah satu pulau dari gugusan pulau indah di Lombok. Tegar, menyimpan perasaan pada Rosie selama 20 tahun, dan berniat menyatakannya saat matahari terbit di Gunung Rinjani. Tapi, Nathan, yang baru dua bulan berkenalan dengan Rosie, lebih dulu mengutarakan perasaannya saat matahari terbenam. Sejak saat inilah Tegar menghilang dari kehidupan Rosie dan Nathan.

5 tahun berselang, Rosie dan Nathan berhasil melacak posisi Tegar. Setelah 5 tahun, Tegar pun kembali menjadi bagian dari keluarga mereka. Selama 13 tahun, Rosie dan Nathan membangun keluarga bahagia bersama keempat putrinya, Anggrek, Sakura, Jasmine, dan Lili. Kebahagiaan itu lenyap tak bersisa ketika saat ulang tahun pernikahan yang ke-13, bom bali merenggut Nathan dari keluarga ini. Tegar bergegas ke Bali, mencari Rosie dan keluarganya. Begitu mendadak hal itu hingga Ia lupa akan hari pentingnya, pertunangan dengan Sekar keesokan harinya.

Rosie, yang tak dapat menerima hal itu menjadi depresi dan harus dimasukkan ke dalam shelter perawatan. Tegar pun membatalkan janjinya dengan Sekar, pindah ke Gili Trawangan dan menjadi pengganti orangtua bagi keempat putri Rosie. Perjuangan Tegar berjalan dengan lancar, hingga masa lalu menguak muncul dan mengancam kebahagiaan mereka. Bagaimanakah kisah Tegar dan Rosie, kini setelah semuanya terungkap? Siapakah yang dipilih Tegar, Rosie dan putri-putrinya, ataukah Sekar yang setia menunggu dan menciptakan kesempatan untuknya?

Tere Liye membawakan tema “tak bisa move on” dengan gaya yang berbeda dan mengaduk emosi pembaca. Dalam beberapa bagian, saya terpaksa harus berhenti sejenak dan menarik nafas panjang *gara-gara nangis, hihi :p*. Tak jarang, saya merenung, apakah yang akan saya lakukan jika scene itu yang terjadi di kehidupan saya? Alur ceritanya sangat pas, penokohan yang tepat serta latar tempat Pulau Lombok dan Bali yang indah juga mendukung kekuatan novel ini.

Novel ini sarat dengan makna, mulai dari arti kehilangan, kesetiaan, cinta, rasa sakit, hingga maaf. Saya belajar tentang arti kehilangan dari cerita Tegar kepada keempat putri Rosie tentang Putri Nelayan. Saya belajar tentang kesetiaan dari Sekar, yang dalam diam menunggu Tegar menepati janjinya hingga 2 tahun menunggu.

Saya belajar tentang rasa sakit, dari Tegar yang kehilangan kesempatannya di Gunung Rinjani, dari Sekar yang menjadi bayang-bayang Rosie.

Bagi seorang gadis, menyimpan perasaan cinta sebesar itu justru menjadi energi yang hebat buat siapa saja yang beruntung menjadi pasangannya, meskipun itu bukan dengan lelaki yang dicintainya. Bagi seorang pemuda menyimpan perasaan sebesar itu justru mengungkung hidupnya. Selamanya — Oma, page 157

Apakah dunia memang begitu? Kita tidak akan pernah mendapatkan sesuatu jika kita terlalu menginginkannya. Kita tidak akan pernah mengerti hakikat memiliki, jika kita terlalu ingin memilikinya — Tegar, page 403

Saya belajar tentang cinta, dari Tegar kepada Rosie, dari Nathan kepada Rosie, dari Sekar kepada Tegar.

Dan saya belajar tentang maaf, dari Jasmine kepada teroris bom Bali.

Jasmine… Jasmine tidak akan membenci. Demi Paman Tegar yang mengajarkan Jasmine menyulam, merajut. Jasmine… Jasmine tidak akan pernah membenci Om. Karena Jasmine percaya apa yang Paman Tegar bilang. Sungguh percaya. Ayah, kata Paman Tegar, Ayah tersenyum senang di surga kalau Jasmine bisa memaafkan Om. — Jasmine, page 245

Hal utama yang saya dapat dari novel ini adalah, bahwa kesempatan itu kita yang menciptakan, dengan perantara takdir yang telah diatur oleh Allah SWT. Buatlah kesempatan selagi kamu bisa, dan ambillah kesempatan itu. Jangan sampai menyesali apa yang tidak dikerjakan dibanding yang dikerjakan.

Over all, this book is totally recommended!

Review: Andrei Aksana-Sebagai Pengganti Dirimu

Sebenernya baca bukunya Andrei Aksana ini sudah awal Januari yang lalu, tapi berhubung banyak tugas akhir dan ujian, baru sempat ngereview deh *alesan :p *

Sebagai Pengganti Dirimu – Cover

Judul: Sebagai Pengganti Dirimu
Penulis: Andrei Aksana
Tahun Terbit : 2011
Penerbit: PT Gramedia Pustaka utama
Tebal: 320 halaman

“Aku tak mungkin membebaskanmu,” desah Glenn kacau.
“Ibumu yang mengatur pernikahan ini. Dan bukan aku yang dipilih jadi suamimu, kan?”
“Aku nyaris direbut pria lain, Glenn!” pekik Sadira kesal.
“Aku mengandung anakmu! Dan kau tidak sanggup berbuat apa-apa!”

Kekasihnya menolak mengawini, meski telah menghamili. Ibunya menjodohkannya dengan pria lain yang tidak dicintainya. Akhirnya Sadira nekat melarikan diri dari rumah. Tepat di hari pernikahannya, ia kabur bersama sopir limusin pengantinnya. Sopir inilah yang mengubah hidup Sadira. Perhatian dan ketulusan Feran membuat Sadira sanggup menjadi ibu tunggal membesarkan Rava.

Namun di saat itulah Glenn muncul kembali, menghadirkan nostalgia cinta mereka. Pria yang dulu menolak Sadira, yang dulu mengingkari kehadiran buah hatinya, kini meminta Sadira untuk kembali padanya. Sadira terombang-ambing. Siapakah yang harus dipilihnya? Glenn, cinta pertamanya dan juga ayah Rava? Atau Feran, yang selama ini mencintai Rava seperti anak kandungnya sendiri?

“Izinkan aku menyembuhkan luka di hatimu, Sadi,” sergah Feran sedih. “Izinkah aku menggantikan tempat Glenn di hatimu.”

Sebagai Pengganti Dirimu. Betulkah cinta tak pernah tergantikan? Sekalipun telah menorehkan luka dan dendam?

Begitulah sinopsis yang ada di web resmi Andrei Aksana. Ya, buku ini bercerita tentang Sadira, anak bungsu pasangan suami istri kaya raya, Pramudya dan Astari, yang hidup di dalam “sangkar”. Sejak kecil semua keinginanya selalu dipenuhi, tak kurang suatu apapun. Ibunya menaruh harapan yang sangat besar pada Sadira, sehingga memberikan tuntutan agar Sadira menjadi yang terbaik, protektif, dan otoriter. Ayahnya, Pramuya tak berani melawan kehendak Astari karena merasa berhutang budi. 

Dimulai dengan hubungannya dengan Glenn, seorang pemuda yang satu kampus dengannya, Sadira yang sudah menginjak bangku kuliah pun mulai memberontak, ia tak mau lagi berada di dalam sangkar emas ibunya. Pada Glenn, ia menemukan seseorang yang menjadi tempatnya lari dari tuntutan ibunya. Glenn, di lain pihak, pada Sadira ia menemukan tempat pelarian dari sepinya kehidupan keluarganya. Karena terlalu bebas, Sadira pun hamil. Glenn, yang trauma dengan kondisi keluarganya, tidak mau bertanggung jawab.

Astari pun langsung mengambil tindakan, ia memaksa Sadira menikah dengan orang pilihannya. Di hari pernikahannya, Sadira memberontak, ia pun kabur bersama supir limousinnya, Feran. Sejak saat ini lah perjalanan Sadira dan Feran dimulai. Ketika Sadira sudah mulai mencapai kemandirian finansial, Glenn pun datang dan merayu Sadira dan Rava, anaknya untuk kembali bersamanya. Feran, dengan ketulusan hatinya, di lain pihak, mulai mengambil tempat di hati Sadira dan Rava.

Ketika akhirnya Sadira memilih, apakah pilihannya tepat untuknya, Rava, dan kedua lelaki tersebut? Just read the book and you’ll find the answer!

Di buku ini, Andrei Aksana juga memberikan CD lagu mengenai buku tersebut yang dinyanyikan sendiri olehnya, tapi sayangnya karena bukunya pinjam di perpus, jadi nggak bisa mendengarkan isinya 😦 Cerita dalam novel ini typical, alurnya bisa ditebak dari sinopsis yang ada, tapi Andrei Aksana bisa membawa cerita dengan tema yang “biasa” ini menjadi istimewa, dengan pesan yang bermakna, dan gaya cerita yang membius. Walaupun sudah bisa menebak akhir ceritanya, but I found myself happy and carried away by this book. Ceritanya ringan, and you’ll smile at the end of the story. For you who prefer reading light story, romance, and typical, this book is recommended!

Happy reading~ 😀

Event I Love the Most: Bookfair!!

Di penghujung tahun ini, setelah beberes kamar yang mirip-mirip kapal pecah *:p* ternyata masih ada beberapa buku yang nangkring di rak tanpa sempat dibaca. Buku-buku itu hasil perburuan di di bookfair 😀

Tahun ini sudah mengunjungi 4 bookfair, dan kalap beli ini itu *mumpung diskon, hihi :p

Kalau dateng ke bookfair itu…

  1. nggak cukup sekaliii 😀 pertama dateng survei dulu, sekalian beli beli buku yang sudah diincer. kedua kalinya, muter-muter lagi, kali aja ada buku yang baru dateng 😀
  2. lebih enak sendirian, kalau sama temen, ajak temen yang bookworm juga, biar nggak rempong ngajakin pulang padahal kita masih belum puas hunting 😀
  3. bawa uang sesuai budget, biar nggak ludes uang tabungan :)) *ini yang terjadi waktu aku ke pesta malang sejuta buku, berhubung baru gajian, bawalah duit yang lumayan, dan menghabiskan separuh dari jatah bulanan buat belanja belanji buku *astaghfirullah, kalap* dan harus hidup prihatin sampai akhir bulan :p
  4. pakai outfit yang nyaman dan barang bawaan ringan, biar nggak ribet kalau lagi hunting 😀

 

dari Islamic Bookfair di Skodam, ke Pesta Malang Sejuta Buku di Gedung Kartini,  Gramedia Fair di hall Matos, sampai diskon akhir tahun Togamas, buku-buku yang dibeli adalaaaah:

  1. Drachenreiter  (Sang Penunggang Naga) — Cornelia Funke
  2. Tokyo — Mo Hayder
  3. Anak-Anak Langit — Terrence Cheng
  4. Eat, Pray, Love (edisi Bahasa Indonesia) — Elizabeth Gilbert
  5. Ways to Live Forever — Sally Nicholls
  6. The Ghost (Sang Penulis Bayangan) — Robert Harris
  7. The Art of War for Women — Chi-Ning Chu
  8. The Professor and The Madman — Simon Winchester
  9. The Eternity — Douglas Preston & Lincoln Child
  10. Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah — Tere Liye
  11. Bumi Manusia — Pramoedya Ananta Toer
  12. Honeymoon with My Brother — Franz Wisner

apa lagi ya? seingetku masih ada, tapi sudah dibaca dan sedang dipinjam, jadi lupa :))

Tahun ini beli buku lebih dari 10, tahun depan semoga diberi rejeki yang cukup biar bisa beli lebih banyak buku 😀

Batu Wonderland

Sebenernya udah lama sih ke Batu Wonderlandnya, tp baru diposting sekarang *lagi males sih :p

Jadi, Batu Wonderland itu kompleks hotel, shopping center, playground, dan mini waterpark.

Lokasinya di JL.  Imam Bonjol No. 9 Batu, Jawa Timur, Telp. 0341-595929. Karena waktu itu cuma nyobain waterparknya, jadilah yang saya review cuma waterpark aja 😀

Waterpark di Batu Wonderland ini ukurannya tergolong kecil, nggak seperti waterpark lainnya.  Terdiri dari 2 kolam, kolam permainan, dan kolam untuk renang biasa. untuk kolam permainan, kedalaman air ± 20-70 cm saja, sedangkan kolam renang biasa kedalamannya ± 125 cm. Maklum, sasarannya kan untuk anak kecil. Waktu ke sana berasa salah tempat, habis isinya anak kecil semua. Orang dewasa yang ada ya orang tua anak-anak tadi :p

Kolam 125cm

Permainan (1)

Permainan (1) from behind

Permainan (2)

Permainan (2) From Behind

Photo Corner

Isi permainannya juga lumayan bagus kok, anak-anak pasti suka. Lagipula, tiketnya nggak mahal untuk ukuran waterpark. Tiket untuk hari Senin-Sabtu Rp. 10.000,oo, hari Minggu Rp 20.000,oo. Di Batu Wonderland ini juga disediakan penyewaan pelampung ban untuk waterboom Rp 20.000,oo, ban besar Rp 10.000,oo dan ban kecil Rp 5.000,oo.

Batu Wonderland buka setiap hari, dari Senin-Minggu mulai pukul 09.00. Terlalu siang sih menurut saya, habisnya kalau berenang kan lebih enak pagi-pagi, selain udaranya masih segar, matahari masih belum terik, jadi kulit nggak terbakar 😀 Tapi kalau anak kecil pasti nggak peduli, yang penting main air :p

Sedangkan untuk hotel nggak begitu mahal kok, cuma karena nggak nginep, jadi nggak bisa kasi review tentang hotelnya. Selain waterpark ada playground untuk anak balita yang masih terlalu kecil untuk renang, atau yang orang tuanya nggak bisa jaga. Seingat saya ada “wahana” mandi bola dan alat permainan yang ada di resto cepat saji KFC :p. ada tempat belanja oleh-oleh juga, jadi kalau tidak sempat ke pusat oleh-oleh bisa langsung beli di situ.

Overall, menurut saya Batu Wonderland ini recommended buat keluarga yang mau rekreasi ke Batu, apalagi dari luar kota.  Fasilitas lengkap, dekat dengan tempat rekreasi lainnya, dan harganya juga terjangkau.

Nicholas Flamel-The Alchemyst by Michael Scott

Hari Senin kemarin mampir ke Perpus Kota Malang, niatnya cari buku-buku kerajinan *lg keranjingan pengen belajar kerajinan :p*  tapi berhubung buku yang dicari lagi dipinjem, mampir deh ke bagian novel.

Eh pas ada buku Nicholas Flamel-nya Michael Scott. Namanya familiar ya? Aku tau nama Nicholas Flamel itu waktu baca Harry Potter 1, tentang batu bertuah. Dulu pernah liat di toko buku, tapi berhubung nggak ada budget, gak jadi beli deh. Kemarin ada buku ini di perpus langsung ambiil 😀

The Alchemyst ini adalah buku pertama dari seri buku The Secrets of The Immortal Nicholas Flamel. Diterbitkan oleh RandomHouse.Delacourt di USA pada 22 Mei 2007 dan RandomHouse/Doubleday di UK pada 25 Mei. Buku ini sudah diterjemahkan dalam 20 bahasa di seluruh dunia!

Buku The Alchemyst ini bergenre fiksi-fantasi yang menceritakan petualangan dua orang saudara kembar, Josh dan Sophie bersama Nicholas Flamel, yang dikenal sebagai manusia abadi. Petualangan ini diawali di San Fransisco, di toko buku tempat Josh bekerja part-time yang ternyata adalah milik Nicholas Flamel dan Perenelle Flamel. Pasangan Flamel ini adalah penjaga Book of Abraham yang berisi mantra dan rahasia-rahasia terkuat di alam semesta. ketika Dr. John Dee mengetahui keberadaan pasangan Flamel, ia merebut buku itu. Josh dan Sophie membantu pasangan Flamel mempertahankan buku tersebut, tapi sekarang mereka juga diburu oleh Dr. Dee. Buku itu berhasil direbut dan mereka menculik Perenelle. Tapi ternyata Josh berhasil merobek halaman terakhir buku, yang merupakan inti buku tersebut.

Petualangan pun dimulai untuk mempertahankan bagian terpenting buku tersebut dari Dr. Dee. Flamel dan si kembar memimta bantuan Scathach untuk melawan Dr. Dee. Dimulai dari Negeri Bayangan, mereka meminta bantuan para Ras Tetua untuk membangkitkan kekuatan sihir Josh dan Sophie. Malangnya, Dr. Dee berhasil meminta bantuan Dewi Kucing Mesir dan Morrgigan untuk mengambil buku tersebut. Proses pembangkitan kekuatan pun terganggu dan terjadi peperangan di Negeri Bayangan.

Kisah dalam buku ini sangat menarik, diceritakan dengan detail dan alur yang menggugah minat baca. Michael Scott benar-benar membawa kita menuju sebuah dunia fantasi dengan tokoh yang berasal dari mitos terkenal di dunia. A must read book!!