Memangnya kita siapa? berani-beraninya memaksa Sang Pencipta mewujudkan keinginan kita. mintanya spesifik, maunya cepet pula.

Advertisements

#PrayforGaza #SavePalestine

Di tengah hiruk pikuk World Cup 2014, Pemilihan Umum Indonesia 2014, saudara-saudara kita di Palestina sedang menderita karena serangan zionis Israel. Sedih melihat banyaknya post di timeline social media tentang apa yang terjadi di Palestina, bagaimana anak-anak kecil itu menjemput ajal sementara mereka seharusnya masih menikmati masa kanak-kanaknya.

Basically, it is not the matter of religion, masyarakat yang tinggal di Palestina bukan hanya muslim, tetapi juga penduduk yang memeluk agama lain. Masalah yang *dari hasil baca-baca* muncul karena perebutan teritorial dan perbedaan idealisme, dan salah satu negara berusaha menguasai negara yang lainnya *CMIIW* ini semakin berlarut-larut dan tidak kunjung menemukan solusi. Where is UN when this humiliation happen in front of their eyes? Semua orang melihat apa yang terjadi, tetapi bahkan PBB tidak turun tangan.

10322664_10203211214633827_8000577177748780088_nIt doesn’t matter where are you come from or what is your religion, you only need to be human to see that this kind of thing Israel did to Palestine is wrong and awful. Semoga saudara-saudara kta di Palestina diberi ketabahan dan semangat juang dalam menghadapi hal ini. I couldn’t do anything beside praying for them.

In case you want to help them with donation, please kindly refer to this photo:

Donation

 

Thought: Antara Mimpi dan Pandangan Masyarakat

Hmm, post yang satu ini sebenarnya memang sedikit *curhat* 😀

I am currently enrolled in NCU Taiwan, second year Master Degree Student, dan berharap bisa lulus tepat waktu. Seiring berjalannya waktu, entah kenapa saya merasa semakin kurang berilmu, dan masih ingin “berpetualang” ke tempat-tempat lain, menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari pengajar-pengajar kelas satu, berinteraksi dengan berbagai macam orang dari seluruh dunia, dan merasakan kehidupan mandiri di negri orang. But then, di usia yang sekarang ini (still 23rd, anyway) dorongan untuk melanjutkan ke jenjang Ph.D membutuhkan pertimbangan yang amat sangat matang.

Why? Seperti yang saya tahu, di lingkungan tempat saya tinggal, far away from here, Indonesia, my beloved country, pandangan masyarakat mengenai wanita seusia saya, yang berpendidikan, dan masih ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi kurang mendapatkan apresiasi. Mereka (kebanyakan) pasti akan berkata, “sekolah terus kapan menikahnya?”. Memang tidak semua orang berpendapat seperti itu, tetapi di lingkungan tempat tinggal saya, di mana masih sedikit wanita yang berkesempatan mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, berpendapat bahwa wanita seumur saya yang akan menikah is better than wanita seusia saya yang masih melanjutkan kuliah, belum berpenghasilan, dan entah kapan akan menikah.

Bukannya saya merendahkan wanita yang memilih menikah di usia muda, teman-teman saya juga sudah ada yang menikah, dan mereka memiliki mimpi masing-masing, either melanjutkan pendidikannya, membaktikan diri pada keluarga sebagai ibu rumah tangga, atau memilih jalan yang lain di dunia kerja. People have their own choices. Some of them choose to get married, being a housewive (I adore people who choose this way, menurut saya ini adalah pilihan yang berat, keep fight, housewives!), some of them choose to get married, yet still continuing their study or pursuing their career. Then is it wrong if I choose to continuing my study first then get married?

Sometimes the biggest obstacle is not ourselves, it is, indeed, the people around us. Family, neighbors, friends, even acquaintances. Ketika wanita ingin meraih mimpi setinggi-tingginya, mereka terkadang akan menurunkan semangat juang kita dengan “what if” and “why don’t you”. Mungkin memang ada beberapa hal yang mereka ingin kita pertimbangkan, dan memang kodrat wanita, as they said, is being a mother and a great wive. Menjadi ibu dan istri yang baik adalah kewajiban wanita, memang, tetapi apakah karena itu kami tidak bisa meraih apa yang kami impikan? Jika lelaki yang ingin meraih mimpinya, pasti akan didukung, dan masyarakat akan memuji dengan setulus hati *maybe* jika kaum lelaki meraih kesuksesan. Well, that is a good thing. Tetapi terkadang saya merasa hal ini kurang adil. Let’s make the comparison. Seorang wanita, umur 27, lulus Ph.D, belum menikah, apa yang akan orang sekitarnya bilang? “makanya, jangan tinggi-tinggi kalau sekolah, nanti susah jodohnya”. Seorang lelaki, umur 27, lulus Ph.D, belum menikah, mungkin orang sekitarnya akan berkomentar baik “coba lihat si x, doktor, lulusan luar negri, dan masih single, calon menantu idaman”. See the difference?

Bahkan di kelas, di saat dosen saya menyemangati mahasiswanya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, they said “kalau ada kesempatan langsung lanjut ke S 3 saja, eh tapi untuk mbaknya, menikah dulu ya mbak”. Salah satu dosen saya menambahkan, “nanti laki-lakinya minder”. Hmm.. but then he said ” tapi tergantung laki-lakinya. seharusnya tidak menjadi masalah”. Right, seharusnya pendidikan tinggi tidak menjadi masalah bagi kaum wanita, selama kami bisa membatasi dan menjaga diri. I once heard people talked, “buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau nantinya cuma jadi ibu rumah tangga”. I beg your pardon, being a housewive menurut saya bukanlah hal yang mudah. It is a hard way. Mendidik anak sedari kecil harus dilakukan oleh orang yang berpendidikan. Wrong way? then the result will totally go wrong. Pilihan apapun yang nantinya kami pilih, bukankah kami wanita, berhak, dan seharusnya, wajib berpendidikan tinggi? Memang, pendidikan yang dimaksud bukan hanya didapat dari bangku perkuliahan. We can get educated any where, every where. Menikah pun memang bukan halangan bagi wanita untuk menggapai mimpi. Tidak ada yang salah dengan menikah muda. No matter how old are you, when you’re ready (mentally, physically, economically, etc) then it’s okay for you to get married. Memang sih, dulu rasanya pingin nikah muda, maybe around this age, 23-25. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, I haven’t ready yet. Bukan karena ingin melanjutkan studi atau bekerja, but I just couldn’t imagine myself in a marriage life. Masih belum bisa mengemban tanggung jawab sebesar itu, mungkin. Because I really hope it will be a once in a lifetime moment.

Kok jadi melebar? Anyway, the point is, what is wrong with well-educated unmarried woman, dear society? Alhamdulillah keluarga terdekat saya selalu mendukung apa yang saya inginkan, selama itu baik dan berada di koridor Islam. My family, encourage me to pursue my dreams, it’s okay to go on Ph.D if you want, they said. Dan di depan orang-orang lain yang menanyakan “kapan nyusul” ketika di kondangan, atau keluarga besar yang menanyakan “kapan menikah” saat lebaran, they will said “belum saatnya, biar sekolah dulu”. As long as my family accept and agree with my plan, then for me it’s ok. 😀

Bagaimana Allah menjawab Doa-Doaku

Then which of the favors of your Lord will you deny?

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

(Q.S. Ar-Rahman)

Ya, maka nikmat Allah yang manakah yang sudah kudustakan? Hari ini  entah kenapa sedikit merenung serius *biasanya gak pernah serius ._.* tentang nikmat yang sudah Allah berikan padaku. Memang, ada kalanya saya merasa protes, tidak dikabulkan doanya, padahal sudah (merasa) berusaha dan berdoa dengan sepenuh hati. Tapi siapa yang tahu apa yang Allah rencanakan.

Seperti yang sudah kita ketahui, namun sering kita lupakan, bahwa Allah tidak pernah berkata “tidak” pada doa umat-Nya. Ada 3 respons Allah terhadap do’a yang kita ajukan.

  1. Ya, Dia akan mengabulkan apa yang kita panjatkan saat itu juga
  2. Tunggu, Dia akan mengabulkan doa kita, tetapi tidak sekarang
  3. Dia memiliki rencana lain yang lebih baik daripada apa yang kita inginkan

Dari ketiganya, alhamdulillah sudah pernah saya rasakan..

Yes, ketika khawatir dengan nilai mata kuliah yang diambil semester ini, karena hasil midterm yang sangat jelek *duh*, ketar ketir karena kalau tidak lulus harus mengulang tahun depan, yang berarti semakin lama lulusnya ._. Alhamdulillah Allah mengabulkan doa saya meluluskan ketiga mata kuliah tersebut, dengan nilai yang cukup. Hei, I asked for passing the grade, not being the number one in the class, so this is His answer. Meskipun dengan usaha yang penuh darah dan keringat juga sih ya, tapi Alhamdulillah, doa saya yang ini dikabulkan.

Wait, pertengahan tahun 2011 ketika saya sekeluarga umroh, saya berdoa di depan pintu Ka’bah, multazzam, di tempat-tempat dan waktu yang dihijabah doanya, saya memohon supaya bisa lulus S1 tahun itu dan diberikan kesempatan ke menimba ilmu di luar negri. Doa saya untuk kelulusan dikabulkan beberapa bulan setelahnya, 21 Maret 2012, dan kesempatan untuk menimba ilmu ke luar negri akhirnya dikabulkan di pertengahan 2013. I have to wait for almost 2 years for my pray. But it is worth the wait. Kenapa? kalau untuk kelulusan memang my bad, salahnya sendiri males-malesan kerjain skripsi ._. *this is the proof that we should also tried our best, tidak cuma berdoa tapi tidak ada usaha*. Jika, saya diberi kesempatan ke luar negri pada tahun itu, mungkin akan berbeda. Tetapi yang saya yakin, bahwa saya baru diberi kesempatan itu setelah 2 tahun menunggu adalah yang terbaik bagi saya. Mungkin, pada tahun itu I haven’t grown up and mature, not only my behavior, but also my way of thinking and my religion basic. Entah apa jadinya saya jika pergi tahun itu. Ketika berangkat tahun lalu saja, masih merasa banyak kekurangan, baik dalam ilmu, kemandirian, kedewasaan, maupun basic agama yang akan membantu saya survive. Apalagi jika berangkat tahun 2011. Alhamdulillah He answer my du’a last year.

He has a better plan for me, seringkali saya merasakan yang satu ini. Tentang pemilihan riset dan universitas, misalnya. Riset saya di S1 adalah tentang fiber optik. Right after the DD scholarship announced, saya berdoa bisa mendapatkan Profesor dan topik riset yang sesuai dengan skripsi di S1. Nyatanya? sekarang saya malah beralih ke bidang yang berlawanan dengan fiber optik, yaitu antenna dan FPGA board. Why? Yang bisa saya pikirkan adalah memang ini yang terbaik, karena toh kalau nantinya saya pulang ke tanah air, bidang riset yang saya inginkan di fiber optik masih di angan-angan dan tidak bisa diimplementasikan dalam waktu dekat, atau malah tidak akan diimplementasikan di Indonesia. Sementara tentang topik riset yang sekarang, insya Allah bisa diimplementasikan segera, mungkin akan mengalami beberapa modifikasi, but it is, indeed, implementable, dan tidak “mengada-ada”. He really has a best plan for me.

Ada memang, do’a saya yang belum diberikan jawaban oleh Allah, walaupun sama-sama saya panjatkan di depan multazzam, tetapi doa yang ini belum ada jawabannya. Jelas bukan “yes”, mungkin “wait” atau “He has a better plan”.  Atau mungkin Dia sudah memberikan jawaban, hanya saja saya yang tidak mampu menangkap tanda-tanda yang diberikan-Nya? Manapun jawaban yang diberikan, it is surely the best for me. Doa apa itu? just let me keep it by my self 😀

Maka, renungan saya hari ini, tidakkah saya malu selalu meminta pada Nya, masih protes dan merasa “iri” dengan kondisi orang-orang di sekitar, ketika Dia sudah menjawab doa-doa saya, dan selalu memberikan yang terbaik bagi saya? Then, seperti yang sering diulang dalam Q.S. Ar-Rahman, “Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu abaikan?”

DSR Lab, February 19th 10.21

Age doesn’t guarantee maturity

Age doesn’t guarantee maturity.

you can be older, but your attitude is maybe not as well educated as 10 years old kid

you can be older, but you are still not sure about what will you do in the future

you can be older, but you still relying on someone’s shoulder

you can be older, but you can’t be responsible of what you’ve done

but hei, you are older, so take lessons from the experiences happened in life 🙂

Tips: Choosing Your University- [My Version]

The important thing in life is not the triumph but the struggle. –  Pierre de Coubertin

Begitu banyak beasiswa yang ditawarkan, mulai dari universitas di berbagai negara, perusahaan-perusahaan ternama, hingga dari institusi pemerintah. Karena banyak beasiswa yang ditawarkan, pada akhirnya kita bingung untuk memilih yang mana yang paling sesuai.  Nah, berikut adalah tips -tips versi saya untuk memilih universitas yang akan kita apply 😀

1. Choosing The Scholarship

Beasiswa yang ditawarkan memang sangat banyak, dan yang harus diingat adalah memilih beasiswa yang sesuai dengan keinginan kita. I mean, jangan pilih beasiswa tentang politik kalau kita ingin belajar teknik elektro, misalnya *ya iyalah* :p Setelah melakukan eliminasi ini, baca syarat beasiswa tersebut. Jika ada salah satu hal yang tidak mungkin dipenuhi, coret dari daftar pilihan. Misalnya, beasiswa hanya diperuntukkan bagi WNI, jika Anda warga negara asing, jelas akan ditolak 😀

Persyaratan semacam kemampuan bahasa seperti TOEFL, TOEIC, IELTS, atau bahkan TOPIK (Bahasa Korea) dan HSK (Bahasa Mandarin) masih bisa diusahakan. Jangan patah semangat! 😀

2. Choosing The University(s)

Ada beberapa beasiswa yang “terpisah” dengan universitas tujuan. Misalnya KGSP, DAAD, Erasmus Mundus, beasiswa DIKTI dsb. Dalam beasiswa ini kita diperbolehkan memilih sendiri universitas tujuan yang akan kita apply, dengan batasan tertentu. KGSP misalnya, kita diperbolehkan memilih 1(jika langsung mendaftar ke universitas tersebut) atau 3 (jika melalui kedutaan besar) universitas dari total 60 universitas yang tersedia.  Nah, bagaimana kita memilih universitas tujuan? Menurut saya, hal-hal yang perlu diperhatikan untuk memilih universitas tujuan adalah:

  • Adanya bidang ilmu yang kita inginkan

Ada beberapa universitas yang tidak memiliki bidang ilmu yang kita inginkan. Atau beasiswa yang ditawarkan tidak mencakup bidang ilmu yang kita inginkan. Harus jeli dalam membaca requirements scholarship tersebut.

  • Adanya Professor yang ahli di bidang riset yang kita ajukan

Pilihlah universitas yang memiliki Professor yang ahli di bidang riset kita, jika tidak, maka kemungkinannya kita akan kesulitan dengan riset tersebut dan bisa-bisa ganti judul riset 😀

  • Ketersediaan alat-alat laboratorium

Jika kita memilih riset yang memerlukan kerja laboratorium, pilihlah universitas yang memiliki ketersediaan alat yang lengkap, atau jika tidak, universitas yang menjamin bahwa kita bisa mendapatkan alat tersebut, dengan meminjam atau membeli, dan sebagainya.

  • Lingkungan universitas

Lingkungan yang kondusif juga mendukung mood kita untuk menyelesaikan studi 😀 Kemudahan berkomunikasi dengan penduduk sekitar maupun Professor dan staff di universitas juga dipertimbangkan. Akan lebih baik jika kita bisa menguasai bahasa yang digunakan di daerah/negara tersebut 😀

  • Biaya hidup di negara/daerah tersebut

Jika scholarship tidak mencakup living cost, harus dipertimbangkan biaya hidup di daerah tersebut, apalagi jika membawa keluarga. Jangan sampai mengalami permasalahan karena tidak bisa membiayai living cost di sana. Jika memungkinkan, tanyakan pada pihak universitas apakah ada beasiswa yang mengcover biaya hidup atau tunjangan yang bisa kita dapatkan. Bisa juga bekerja part time untuk memenuhi biaya hidup, tapi untuk pelajar asing, biasanya dibatasi jam kerjanya. Well, biaya hidup itu tergantung gaya hidup. Tidak peduli seberapa besar beasiswa yang kamu dapatkan, jika gaya hidupmu jauh di atas yang kamu bisa penuhi, tetap akan terasa kurang.

Intinya, kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang universitas atau beasiswa yang ingin kita apply. Jangan sungkan untuk bertanya kepada contact person yang tercantum jika ada yang kurang dimengerti. Jangan malas mengurus berkas! Selamat berburu beasiswa dan jangan patah semangat. Fighting~ \m/

Nothing we ever imagined is beyond our powers, only beyond our present self-knowledge – Theodore Roszak

 

It’s not about the money..

Sudah setengah tahun saya “bekerja” sebagai “guru” les privat. Pertamanya sih, karena nggak ada kerjaan :p nganggur nunggu pengumuman kuliah yang ternyata baru diumumkan bulan November. Karena bosen nganggur nggak ngapa-ngapain, melamarlah saya ke My Tutor, salah satu lembaga bimbingan belajar di daerah Jl. Taman Slamet, Malang.

Murid pertama saya adalah Sabrina, seorang homeschooler, yang karena kondisi kesehatannya harus memilih homeschooling. Sabrina murid kelas 2 SMP, dan saya bertugas sebagai tentor IPA untuk Sabrina. Murid kedua saya adalah Dafa, kelas 1 SMP di salah satu sekolah negeri di kota Malang. Murid ketiga saya, Rizky, anak sang empunya LBB, seorang murid kelas 4 SD. Selain mereka, ada James, 1 SMP, dan Alicia, 5 SD, serta baru-baru ini ada Dita, 1 SMA yang saya tentori tidak melalui My Tutor, that’s because they are my father’s friend’s children :p Basically, saya mengajar nyaris semua mata pelajaran (SD-SMP), dan IPA untuk SMA.

Setelah menjalani selama 5 bulan di My Tutor, I decided to quit, karena selain rumah murid terlalu jauh dari rumah saya, juga karena jadwal kuliah yang mulai padat. My family also wanted me to quit the job in My Tutor. Jadi, sekarang murid saya tinggal James, Alicia, dan Dita.

It’s not about the money. Yes, I’m doing this not because of the money, karena well, berapa sih gaji seorang tentor? Jika dibandingkan dengan pekerjaan full time lainnya, tidak sampai 10% *ya iyalah :p* I chose this job because I love teaching. Yah, saya pikir itu yang setidaknya bisa saya lakukan di Malang sambil menjalani perkuliahan. I also learned something during this job. How to handle the children, how to teach them well, karena mereka akan cepat bosan. Di sekolah saja sudah banyak yang harus dipelajari. Belum lagi PR, apalagi jika ditambah les. Besides earning some money, I could share my knowledge to another. Bukankah ilmu yang selalu dimanfaatkan itu nantinya akan menjadi tabungan amal kita di akhirat? 😀

“In learning you will teach, and in teaching you will learn.”  ― Phil Collins

“Share your knowledge. It is a way to achieve immortality.”  ― Dalai Lama XIV